Planning on 2014

1. Gunung Rinjani
2. Gunung Agung
3. Gunung Raung
4. Gunung Argopuro
5. Gunung Semeru
6. Gunung Bromo
7. Gunung Arjuno
8. Gunung Arjuna
9. Gunung Lawu
10. Gunung Merapi
11. Gunung Merbabu
12. Gunung Sindoro
13. Gunung Sumbing
14. Gunung Slamet

Iklan

Gunung Guntur

 

Pendakian Gunung Guntur tanggal 16 Agustus 2013 sampai dengan 19 Agustus 2013.

22.jpgOwh iya gue pengen kasih tau ke kalian kalo 16 Agustus 2013 hari kelahiran gue, yang pasti di hari itu adalah momen spesial buat gue. Dan berharap kalian ngasih hadiah buat gue #mimpi. Tadinya gue berencana nanjak gunung Slamet bersama Om Budi dkk, tapi gue membatalkan sepihak dengan alasan engga dibolehin sama nyokap. Padahal ada Something yang buat gue ga ngikut 😀 . Setelah hari terus berganti gue pusing sendiri dengan apa yang gue putuskan, Liburan besok ga muncak tuh kaya ada yang kurang. Dan melihat di mbah Google memukaunya gambar gunung guntur, hati guepun terpanggil untuk mendakinya. Tapi semua temen-temen gue mucuk punya planning nanjak masing-masing yang ga bisa gue cut seenaknya.

Dan semakin hari gunung guntur ini kebawa-bawa dimimpi gue, dan om Hendro yang menjanjikan gunung Guntur itu buat gue, lepas tangan gituh ajah dengan alasan ga ada temen yang laen kesana buat barengan. akhirnya dia ngasih harapan kosong gn guntur buat gue. #sabarsabar

Karna terlanjur kepengen, gue harus nanjak ke gn guntur bagaimanapun caranya. Takut anak gue ngiler #omonganngaco. Gue langsung beraksi pasang Status di grup BBC “Backpacker Bogor Comunity”, ajak orang sana-sini. Dan semua ga bisa, kecuali Bang Yogi (temen gue selagi mendaki gn Salak) dia yang comment pertama di Status gue. tanpa basa-basi gue langsung respon dengan senyuman bahagia. :p thanks Bang Yogi..hehehe

Terus gue ajak Mba faridha (tmn gue yang nanjak bareng gn Papandayang), dan hasil awal dia mau reunian di Papandayan lagi sama2 temen-temen barengan gue ke Papandayan bulan Maret Silam. Huffhhh…Lelah, lesu, ga semangat… 😦

Ulang tahun gue kali ini harus di Guntur, meskipun gue harus nanjak sendiri.

God, Please ! Amin (do’a orang putus asa)

Dua hari kemudian tepat 10 Agustus 2013, Mba fa ngabarin lewat inbox kalo Mba Fa dkk pindah haluan ke Guntur.
:iconbummy2::iconbummy1::happybounce::iconbummy2: :iconbummy2::iconbummy1::happybounce::iconbummy2: :iconbummy2::iconbummy1::happybounce:
Alhamdulillah, Thanks God 🙂 Love U Forever. SEmua langsung terencana begituh ajah. Maaf berulang kali, gue suka terlalu lebay dalam menggunakan kata-kata. Tapi, sumpah gue deg degan abis, karna mau ngeliat indahnya gunung guntur dan ketemu kedua kalinya sama temen-temen baru gue.

Dan Om Hendro ikut bersama temen cewenya yang sebelumnya gue ga pernah kenal. Pendakian kali ini kita ber-10, terlalu panjang kalau harus menceritakan satu per satu. Tapi kami adalah Pendaki yang keren :iconlachoirplz:dan bertanggung Jawab #Narsis :D.

Kita :

1. Ponco
2. Bayu
3. Ipul
4. Firman
5. Encex
6. Hendro
7. Fridha
8. Dewi
9. Sari
10. Gue

Meeting Point di Pintu keluar Kampung Rambutan TNI AD atau tepatnya di warung Indah Jam. 20.00 Wib. Gue udah wanti-wanti supaya ga ada yang bawa jam ngaret pas meeting point, tapi tetep ajah ada. Kita nunggu sekitar 2.5 jam dari jadwal gara-gara nunggu dua orang yaitu Firman dan Bayu. SELAMAT, kalian berdua sudah membuat kami menunggu PARAH! 😥 #pasangmukakesel .

Kp.Rambutan

di Kp.Rambutan

Setelah  Bayu dan Firman datang, kita bergegas bangun dari duduk untuk berjalan sedikit ke arah dalam kp. Rambutan untuk mencari Bis menuju Garut. Sebenarnya, ada tepat di depan kamibus menuju garut, tetapi Penuh dengan pendaki lain. Jadi kami mencari yang kosong bisa lainnya.

Sesampai nya di SPBU Tanjung Guntur sekitar jam. 02.00 Wib tanggal 17 Agustus 2013, kami beristirahat disini menghabiskan malam menunggu datangnya Pagi. Jam 04.30 Wib, kami shalat subuh berjama’ah. Setelah itu Ada yang bergegas bersih-bersih, Sarapan, dan melengkapi logistic yang kurang. Dan Photo-photo dulu sebelum mulai perjalanan lagi.

w3

Bang Ponco & Bang yogi yang mencari Truk pasir yang bisa kita tumpangi, tentunya ga gratis. Berhubung ada 3 (tiga) kelompok yang beristirahat di SPBU Tanjung dengan tujuan yang sama yaitu ke Gunung Guntur. Maka inisiatif bang Ponco ajak mereka join ke truk yang kita tumpangi dan pe-te pe-te dengan harga Rp.10.000,-/orang. Berikut hasil Foto-foto di Truk Pasir :

w1

 Ternyata engga selamanya perjalanan itu selalu menyenangkan, perjalanan kali ini ada musibah yang terjadi sama temen seperjalanan gue (Bang Hendro). dia kehilangan Dompetnya plus isi-isinya.. :iconbegplz: . Sepanjang jalan gue cuma bisa ngeliatin dia, auwhhh pastii ngenes bgt hatinya secara semua identitasnya ada dalam itu yang paling penting. ” untuk yang menemukan tolong hubungi kami ya!” #lebay. Kalau cewe di jadikan Saudara bang hendro kalau cowo juga.. (ga rela kalo ada yang jadian sama bang hendro, jadi ga ada pilihan selain jadi saudara :p ..hehehe).

Owh iya, Ratusan detik yang kita lewati disini, dan detik yang kita lewati ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk kita. Dan berharap ini bukan kesempatan yang terakhir untuk kita bersama mendaki gunung Guntur. So, gue ga akan melepaskan pandangan gue dari indahnya ciptaanya. Terutama dengan teman2 seperjalanan gue yang kerren abis.

Satu malam udah gue lewatin bersama mereka di Mobil hingga berpindah di Masjid SPBU Tanjung, dan nanti gue akan bermalam di Puncak yang selama ini gue ingin lihat. Amin.

Truk yang kita tumpangi hanya mengantar kita sampai Curug Citiis, setelah itu kita menyusuri aliran air curug citiis hingga menyebranginya. Owh iya, sekedar info buat yang belum pernah mengunjungi Gn. Guntur, kalau Gunung ini tidak ada perijinan. Sehingga tidak ada Asuransi untuk para pendakinya, dan kita dapat mengunjungi Gunung ini kapanpun kita mau. Tapi, tanggung jawabkan diri masing-masing yah.. Berikut Photo-photo kita saat menyebrangi aliran curug Citiis :

Disni kita akan melawan arah air dan melewatinya, Dan take care saat berada disini dan pada saat menyebrangi aliran air. Karna batu yang kita pijak bisa saja licin dan goyah. Disini kita juga wajib coba merasakan sejuknya air Curug Citiis. Curug Citiis adalah tempat terakhir kita menemukan air, Jadi yang akan mucuk yang persediaan airnya masih minim bisa diisi disini untuk masak di Puncak nanti.

w2

Solidaritas kami untuk saling tolong menolong alhamdulillamasih terjaga 🙂

Setelah kami melewati Aliran Air ini, kami berjalan sebentar dan mulai mendaki bebatuan yang sangat curam. Sesekali kami beristarahat untuk menunggu yang lain, sesekali kami beristirahat untuk mengatur nafas kami sambil meneguk air minum yang kami bawa.

w5

Kami mengulurkan tangan  ketika yang lain membutuhkan pertolongan. Biasanya ketika dibebatu-batuan yang tinggi yang harus dengan penuh usaha dan ke hati-hatian kita menaikinya (Hidung bertemu dengkul)… Dan kami pun memutuskan untuk beristirahat ketika menemukan tanah yang rata tanpa menghalangi pendaki lainnya yang berlalu-lalang.

Bonus, kami menyebutnya bonus. Sebelum sampai puncakpun kami sudah disuguhkan keindahan guntur. Karena tidak ada pos jadi saya sebut saja tempat istirahat kami yang pertama (peristirahatan pertama) berikut hasil dokumentasi di tempat istirahat pertama :

w4

Setelah kurang lebih 15 menit, kami melanjutkan kembali perjalanan. Dan kami menyusuri Ilalang yang tingginya melebihi tinggi kami. Panas terik tidak menghentikan kami untuk tetap berjalan. Kami berjalan santai sambil menikmati perjalanan ini dengan harap-harap cemas menemui Puncak Gunung Guntur. Dan sesampainya pada sumber air terakhir yang kami temui sepanjang perjalanan ke puncak nanti kami mengisi ulang tempat air kami full untuk perjalan selanjutnya dan untuk masak-masak di Puncak. …. :icongotea: .

Tidak lama kemudian, gue dan kawan-kawan melanjutkan perjalanan kembali. Cuaca saat itu sangat terik dan jarang sekali ditemukan pohon rindang. Sepanjang perjalanan sangat menguras keringat karena terlalu panas. Kami menyusuri jalan setapak berpasir, yang kadang kala dapat menggelincirkan kami. Dan di pinggir sepanjang jalan tersebut di penuhi dengan alang-alang yang cukup tinggi. Dan berhubung sepatu gue bukan sepatu gunung dan telapaknya rata. Rasanya susah banget untuk sampe puncak karena terlalu sering kepeleset. Tapi, karena keyakinan gue untuk mengarunginya, dan gue bisa mengikuti yang lainnya tanpa harus merpotkan mereka.

Pukul 12.00 Wib : dari kejauhan mata gue memandang, terlihat ada sebuah pohon yang rindang yang dibawahnya sudah ada beberapa pendaki lain yang beristirahat bahkan sampai terlelap. Karena adzan dzuhur sudah berkumandang, gue, sari, frida memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menunggu yang lainnya di bawah pohon tersebut tanpa mengganggu pendaki lainnya. Zzzzz … :iconwarmandcomfyplz:

Kurang Lebih 30 Menit kita beristirahat, kawan-kawan yang lain menghampiri. Kami pun melanjutkan perjalanan kembali masih menyusuri tanjakan berpasir yang tidak kunjung berganti.

Lalu bertemu Bang Yoga, Encek, Ipul, Firman dan bayu yang telah tertidur di bawah pohon selanjutnya. Mereka menyiapkan Webbing yang terikat pada batang pohon tempat berteduh mereka dari panasnya sinar matahari. Dan menjulurkan lidah webbing ke bawah untuk membantu yang lainnya saat pendakian di tempat tersebut.
pog57p8bdeyf82cccardwvj25d3tba8n
Istirahat lagih… sambil memandang Gunung Galunggung, Gunung Cikuray dan gunung-gunung lainnya yang tidak gue kenali dari sini. Diatas langit awan seperti berjalan kadang menutupi matahari dan kadang meninggalkan kami untuk berpanas-panasan kembali dan Angin sesering mungkin meniup-niup tubuh kami yang sangat gerah berkeringat bercucuran. Ahhh Sejuknya… Terkadang Pasir dan bebatuan berjatuhan ke arah kami yang beristirahat saat yang berada diatas kami berusaha mendaki keatas untuk mencari tempat istirahat. Kadang yang diatas merosot kebawah hingga membuat kami saling tarik menarik tangan ketika akan terperosok kebawah.

Subhanallah, Tangan kami tidak pernah memilih-milih siapa yang harus kami tolong. Dan tangan kami terus kami ulurkan sebelum diminta. Thanks God, Kau berikan hati yang luas kepada kami, sehingga kami dapat melakukan ini semua. Dan ini Nikmat yang sangat membahagiakan.

Beristirahat sambil menunggu yang lainnya. Setelah semua anggota berkumpul dan beristirahat kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Tanjakan semakin curam dan tidak akan berhenti sampai menemukan puncak. Satu persatu berjalan dengan hati-hati karena takut pasir dan bebatuan menimpa yang berada dibawah/yang belakang.

Di 3/4 track, mata gue mulai redup, semua yang ada disekeliling gue berputar. Gue ga mau berhenti disini sebelum puncak gue gapai. Kata, Ipul sedikit lagi sampai Puncak. Gue terus melanjutkan pendakian, sementara matahari masih terus menantang gue untuk beradu nyali dengannya. Sedangkan waktu menunjukan pukul 15.00 Wib. Gue dan yang lain belum makan siang. Alhasil, tubuh gue hampir jatuh kebelakang dan mungkin akan ga sadarkan diri. untungnya ipul berada dibelakang dan narik tangan gue. Dan meminta gue beristirahat.

Setelah pusing gue hilang, gue dan ipul melanjutkan perjalanan lagih. Step by step gue melangkah. 6 kali kaki melangkah 1 menit gue beristirahat untuk mengatur nafas.  Dan itu terus gue lakukan hingga mencapai puncak satu. Di pinggir bibir kawah gue mendamparkan diri melihat ke atas betapa mebirunya langit, betapa sejuknya angin berhembus, betapa hijaunya hamparan tanah yang kami pijak, sambil melihat yang lain memasak air. Dan mereka (Bang Yoga, encek, firman,ipul, bayu) memberikan segelas teh panas untuk gue.  :icongotea: Sruuuppp ahhhhh…. Mantap…

Sambil menunggu yang lain, berhubung gue cewe pertama yang sampai ke puncak narsis-narsis dulu ahh…. Dan ada yang pasang tenda untuk bermalam kami sambil menanti summit ke puncak utama gunung Guntur. Cek it dot.. 🙂

:iconashleyxbrooke:  ahayyy… :p
ay72ssr9g3tris337721mm3e9fvnf71m

Setelah Tenda terpasang, kami menyibukan diri masing-masing. Rata-rata mereka semua menyibukan diri untuk masak makan malam. Semua Logistic yang dibawa dikeluarkan dari masing2 Carriel. Dan Pendakian kali ini sebenarnya gue dan mba Frida berencana masak sayur Sop. Tapi persediaan air yang begitu minim hanya untuk persedian minum besok pagi Summit ke Puncak, untuk masak sarapan pagi dan untuk persediaan turun kembali untuk kembali ke Curug Citiis. Tapi, karena bahan2 hampir sama dengan cap cai. Mba Dewi memutuskan Bahan2 Sop akan dibuat untuk Capcai.

Menu Makan Malam kali ini :
1. Nasi
2. Telor dadar
3. Sosis
4. Nuget
5. Cap Cai, dsb (hehe, lupa udah makan apa ajah???)

Owh iya, gue bukan ga ikut berpartisipasi masak bersama kalian gara2 males. Tapi, pengalaman gue selama gue ikut ke dapur di rumah gue. Semua jadi berantakan. So, maap ya gue ga bisa bantuin masak2 kali ini. Tapi, gue janji kok bakalan bantuin makan makanan yang kalian udah masak :p . Yang pasti next gue akan belajar masak dirumah, untuk masak di pendakian-pendakian berikutnya yang pasti buat masakin calon suami gue (hahaha, usaha).

Sementara, gue solat Ashar & Dzuhur bergantian dengan yang masak-masak. Sumpah rame banget saat itu dengan ocehan ga penting bang Ponco, tapi ga papah. Ga ada musik, bang Ponco pun Jadi :p . (Pisss, bang gahol :p ). Suara bang Ponco menghilang saat bang Ponco sudah terlelap. So, kalo gue nanjak sama dia lagi gue berencana bawa obat tidur untuk dia (Niat Jahat 😀 ) lirik kanan-kiri takut kebaca orangnya.

Makan malam siappppp untuk di santap… !!!
Sttt, sebelum makan baca do’a dulu donk… Come on, bang Ponco sebagai sesepuh pimpin do’a dulu ya… 😀 ….

“Nyesel, ga ada dokumentasi Pas Makan Malam 😥 ” (Please yang punya pas moment makan malem share donk… Ngareeeep bgt :p )

Seusai Makan :

Malam semakin larut, jam pun terus berganti arah, Kabut memendamkan kami di lereng lembah gunung guntur, kami terlelap didalamnya. Sehingga kami tidak dapat melihat apa pun, yang ada hanya kegelapan. Dan udara yang dingin memaksa kami untuk menyelimuti tubuh kami dengan jaket2 yang kami bawa.

Nafas kami mengeluarkan asap yang begitu jelas terlihat. Sungguh saat itu gue benar-benar dalam keadaan kedinginan. Dan gue orang paling bodoh seduania, karena ga bawa Sleeping Bag saat itu. Alhasil, gue mati kutu dengan ulah gue sendiri.

Gue masuk tenda sendiri, berharap ada kehangatan didalamnya. Tapi, tenda pun menjadi dingin. Bagaimana gue??? gue harus apa saat itu?. Gue berharap yang lain ga tau, kalo gue dalam keadaan benar2 kedinginan. Tenda pun terlalu sepi buat gue, kalo gue berada didalamnya terus2an… Pasti ga akan ada banyak cerita di gunung Guntur ini. Gue pun keluar menghampiri yang lain, dengan kaki mulai mebeku seperti tertusuk jarum senyum terpaksa pun gue keluarkan. Dan berharap api unggun yang sudah berkobar dapat menghangat gue. Dan itu sangat nyaman rasanya. Walau dingin ini ga menghilang juga.

Gue nyerah, gue benar2 harus ke tenda sendiri. Setelah melihat kesibukan mereka diluar bermain kartu, ada yang sibuk mempertahankan api unggun. Sedangkan Mba Dewi siap memasak air untuk membuat kopi, teh, susu dsb. Setelah gue menegukan susu jahe. gue pun meninggalkan yang lain untuk tidur di tenda sambil menahan dingin gue menutup mata.

Suara mereka diluar masih terus terdengar, tawa, canda mereka pun meramaikan lereng gunung guntur. Seolah-olah hanya ada kami disini. Owh…Keindahan untuk kesekian kalinya aku rasakan.

Terima kasih Allah, Kau lengkapi kebahagiaan ku dengan menikmati ciptaanMu.

Entahlah, sudah pukul berapa sekarang. Tubuh gue menggigil hebat, gigi bawah dan atas gue beradu hingga menimbulkan suara. Mba Dewi, Mba Frida, Mba Sari sudah terlelap. Gue lagi-lagi menahan agar mereka tidak terganggu dengan keadaan gue. “Seandainya ada kaka aline, pasti gue akan bilang terus terang dari awal tentang keadaan gue yang sedang kedinginan hebat”. terus menahan dingin sambil mendengar tawa diluar lagi. Dalam hati terucap “ga kuat nih!!”…

Beberapa lama kemudian, Bang Hendro datang untuk tidur. Gue diam berusaha menahan kedinginan, tapi tubuh gue terus menggigil meski gue udah tahan semaksimal mungkin.

Dan pada akhirnya ketauan deh “Kalo gue kedinginan hebat” hehehehe 😀

Makasih ya Mba Dewi atas pelukannya…
Makasih juga ya Bang Hendro atas Sleeping Bagnya…
Makasih juga bang Ipul atas sarung tangannya…

Sumpah, beneran ga ada niat kok buat nyusahin kalian disana.. 🙂

Pukul 05.00 Wib :
Semua bergegas bangun untuk summit ke Puncak. Awalnya gue ga boleh ikut sama bang Ponco. Tapi woiii denger semua”i’m coming, Pagi ini gue baik2 saja” keep smile ahhh… :p

Terlihat Bang Hendro tidak membangunkan dirinya meski sudah gue bangunin berkali-kali. Gue bingung mau mucuk apa engga setelah melihat Bang Hendro. Pasti dia kedinginan dan ga bisa tidur gara2 Sleeping Bagnya gue pake. Pura-pura sedih ahhh… “Maap ya Bang Hendro aku tinggalin mucuk, walaupun aku tau kamu ga mucuk gara-gara akuh 😥 😀 , bye ” hehehe

Sebelum mucuk seperti biasa yang mau selamat kita wajib kudu berdo’a, ber do’a dulu yukz…!!!

Satu per satu menyusuri jalan dengan bekal lampu Headlamp dan Senter. Mengikuti langkah yang paling terdepan (yang buka jalur). kali ini kita menyelesaikan pendakian yang tertunda, medan masih alang-alang, batu kerikil dan pasir. Dan kami lewati beberapa meter tanah berpasir yang mengeluarkan asap bau belerang. Kurang Lebih 15 menit kita telah sampai di Puncak ke-2 Gn. Guntur.

Kami berhasil mengabadikan Sunrise 18 Agustus 2013. H+1 dari hari kemerdekaan RI.

Check check check it dot (nge-rep) 🙂

SunRise 18 Agustus 2013 di Gunung Guntur

SunRise 18 Agustus 2013 di Gunung Guntur

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Puncak II Gunung Guntur bertepatan tanggal 18 Agustus 2013. Alhamdulillah, Bersama-sama kami melihat kekuasaan Tuhan yang tersembunyi di balik Puncak Guntur. Kami tidak akan melihatnya jika kami tidak mendakinya saat itu. Terima kasih ya Allah, kuasa-Mu tidak akan pernah berhenti untuk Kau tunjukan kepada kami. Kami bersyukur pada Mu karena kami diberi kesempatan untuk melihat keindahan hari itu yang mungkin saja tidak dapat terulang lagih.

Ya Allah, izinkan kami untuk menemui keindahan-Mu ini berulang kali dan tetap menyimpannya di hati kami. Gambar yang kami ambil dan tulisan yang kami buat.

Semoga Bang Hendro dan teman-teman yang lainnya akan dapat kesepatan dilain waktu untuk melihat keindahan ini. Amin.

God, I Love U So Much, You my Everything & Everythink….. 😥 (Menangis karena bersyukur, takjub dan Bahagia)

Setelah sampai Puncak III kami tidak memutuskan untuk lanjut ke Punak IV karena waktu semakin siang. Sedangkan kami harus Packing, masak dan bersih2, lalu di lanjutkan turun. Mungkin jika Allah masih mngizinkan dan ada kesempatan kami akan menginjakan kaki di Puncak IV Gunung Guntur di Lain Waktu. Amin.

Puncak Gunung Guntur hari itu menunjukan keindahannya meski hari sudah siang. Bahkan semakin Indah, dan semakin sombong memperlihatkan tiap lekuknya. 🙂

Kurang lebih 15 menit kami sampai di tempat Camp. Lalu masak. tidak tahu apa yang kami masak saat itu, aku hampir luma karena banyak menu di sajikan agar Logistic yang kami bawa kemarin tidak akan kami bawa kembali turun. Setalah makan, Packing & bersih-bersih sampah kami bergegas melanjutkan perjalan turun.

Sebelumnya kami berdo’a sejenak agar kami diberi keselamatan hingga samapai rumah masing-masing. Kami benar-benar hanya meninggalkan jejak disan dan berharap jejak kaki kami yang kami tinggal akan membimbing kami kembali saat pendakian berikutnya.

Jalanan berpasir dan bebatuan ini dengan kemiringan hampir 80 derajat, memaksa kami melangkah perlajan-lahan dan hati-hati dengan batu yang kami pijak. ALang-alang juga turut membantu kami sebagai pegangan agar tidak terjatuh.

Tidak lama, kemudian alang-alang yang gue pegang kuat-kuat putus seketika dan menggelindinglah gue hingga jauh. Semua teman hanya terdiam membisu melihat ke arah ku, karena yang lain sibuk dengan kehati-hatiannya masing2 dan teman yang di ajaknya. Beruntungnya, di bawah ada pendaki lain yang menghentikan tubuhku lebih jauh terguling. Thanks ya… 🙂 Dan semua teman gue dan pendaki lain meminta gue untung perosotan. Hahaha dengan senang hati gue menyetujuinya… (Masa kecil kurang bahagia) yuhuuuuu… :p

Di tengah perjalan gue barengan sama pendaki dari UNJ. Dia yang buka jalan karena sepatu gue jebol…ga mungkin juga gue memaksakan diri untuk tetap perosotan di pasir bebatuan. 😦

Kami sempat terpisah, gue ber-4 menunggu yang lainnya di aliran air curug citiis. Dan benar yang lainnya menghampiri kami disana. Karena kami lelah, kami istirahat di pinggiran aliran air. Bersih2 lagih, sholat  dan karena lapar kam pun memutuskan masak mie yang masih sisa. Aseekk makan lagihhh… 🙂 Dari sini perjalanan udah ga jauh lagih kok sampai ke tempat kami naik truck pasir.

Setelah selesai semua kami melanjutkan perjalanan ke tempat pemberhentian terakhir truck pasir. Sempat menunggu lama, tapi waktu menunggu kita buat rileksin kaki masing2. Truck Pasir pun datang dan mengantar kami hingga terminal Guntur. Di terminal Guntur kami bersih2 untuk Shalat, makan dan naik bis ke Jakarta dan pulang ke Rumah Masing-masing. Waktu ituh saya sampai rumah kira-kira Jam 03.30 Wib. 😦

Alhamdulillah kami selamat sampai Rumah masing-masing. 🙂

Ini cerita kami, dan gue sisipkan sekelumit tentang Gunung Guntur dibawah ini !! Check It Out !!

Gunung Guntur adalah sebuah gunung yang terdapat di wilayah barat Garut,Jawa Barat, dengan ketinggian 2.249 meter dpl.

Gunung Guntur terletak di lokasi geografi : 07 derajat 08’30” LS dan 107 derajat 20′ BT.

Gunung Guntur mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukithutan Dipterokarp Atashutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Gunung Guntur merupakan salah satu gunung berapi paling aktif pada dekade 1800-an. Tapi sejak itu aktivitasnya kembali menurun. Erupsi Gunung Guntur pada umumnya disertai dengan lelehan lava, lapili dan objek material lainnya.

Erupsi Gunung Guntur yang tercatat adalah pada tahun 1847, 1843, 1841, 1840, 1836, 1834-35, 1833, 1832, 1832, 1829, 1828, 1827, 1825, 1818, 1816, 1815, 1809, 1807, 1803, 1800, 1780, 1777, 1690.

Lukisan Junghuhn-Gunung Guntur 1856

Lukisan Junghuhn Kawah Gn.Guntur (1856)

Hasil Photo Kami Kawah Gn.Guntur (2013)
Hasil Photo Kami
Kawah Gn.Guntur (2013)

 

 

 

 

 

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Guntur

Yuk kunjungi kembali Gunung Guntur, karena setiap perjalanan punya cerita yang berbeda walaupun tujuannya sama yaitu Gunung Guntur 😀

Transportasi dari Jakarta (Terminal Kp.Rambutan) :
1. Bis Jurusan Jakarta – Garut PP  Rp.75.000,- (Harga dapat berubah-ubah sesuai dengan tarif yang berlaku).
2. Truk Pasir SPBU Tanjung – Curug Citiis Rp.10.000,- (Min.10 Orang)

Cukup sekian Cerita Perjalanan dan Info dari gue. Kurang lebihnya Mohon Maaf.

Sampai bertemu di Puncak Berikutnya “Salam Lestari”

Selesai Penuisan Tanggal 31 Januari 2014

Gunung Gede

Pendakian Gunung Gede tanggal 28 – 30 Juni 2013

Surya Kencana

Surya Kencana

Wah telat ga ya untuk ceritain perjalanan ini ke teman-teman semuanya. Tapi sumpah gue ga bisa ngelupain Malam melihat bintang setelah hujan bersama kawan, menanti matahari untuk menghangatkan tubuh dalam dingin bersama mereka. Ditemani secangkir susu jahe hangat yang dibuatkan oleh teman juga.

Kami berangkat ber-5 (bang Budi, bang Hendar, Bang Momo, Bang Deni dan gue) bertemu di Terminal Kampung Rambutan. Sempet kesel disini, karena gue dibuat jadi anak ilang. Entahlah disengaja atau engga, tapi cukup tau ajah mereka ngasih jam karet ke gue. Mondar-mandir nyari mereka ber-4. Dan gue bertemu dengan bang Ndaru, gue manggil dia om Cemut. Kami ber-2 punya tujuan yang sama yaitu “mendaki Gunung Gede” tapi beda jalur pendakian, gue jalur putri dan dia jalur Salabintana. Secara Bawa Carriel kosong 80L, berat juga pundak gue. Kebetulan om cemut lagi nunggu orang yang kemungkinan lama, Gue putuskan untuk titipin tuh carrier ke om cemut lalu gue meneruskan mencari mereka ber-4.

Sampai pada pukul 22.30 Wib, mereka belum juga ada di rambutan. Badan gue udah capek, keringat gue udah bercucuran, terus kaki gue udah pegel duluan sebelum nanjak. Gimana gue ga kecewa?? Gue ambil carrier ke om cemut dan pamit…Alhamdulillah, gue ketemu sama kang Denz (TS gue ke Papandayan Maret lalu). Dari pada gue berasa kaya anak ilang, yasud gue ikut dia naik motor ke tempat ngumpul rombongannya yaitu Di Musolah Kampung Rambutan.

Waktu terus berjalan jam menunjukan pukul 23.30 Wib. Aseem.. mereka belum juga dateng. Mana nih rombongan ga ada yang gue kenal satu pun kecuali kang Denz. Ikut ajahlah yah nyari aman.

Hampir pukul 00.00 Wib gue beserta rombongan Kang Denz naik bis jurusan Jakarta – Sukabumi (kalo ga salah, Coz gue udah gondok abis. Ga niat baca tuh tulisan kemana tujuan bus). Tapi, akhirnya mereka datang juga 🙂 .

Tadinya gue duduk sendiri, tapi ada pendaki rombongan Kang Denz numpang duduk disebelah gue. Namanya gue Lupa, padahal sempet kenalan sama rombongannya. Lumayan Seruuu dan bisa ngilangin kekeselelean gue sama mereka. Mereka duduk di bangku belakang (entahlah mereka duduk atau berdiri. gue ga ada niat nengok ke belakang).

Melewati jalur puncak yang sistemnya buka tutup, sampailah kami pada tujuan akhir untuk naik angkot yang sudah di carter TS. Kami akan mendaki dari jalur Putri. Dan turun dari bis, gue langsung  gabung dengan mereka ber-4.

Kami mendaki ber-5 ‘sssempurna :p

Kami turun di pemberhentian akhir mobil carteran tepatnya sihh di jalanan sempit terjal pula di pemukiman warga kaki gunung. Sampai disini belum terlihat pos, tapi Dingin sudah terasa menusuk-nusuk tulang gue. Kami pun istirahat sejenak di sebuah warung sambil menunggu yang lainnya (Rombongan Kang Denz). Tapi udah lama ditunggu, mereka belum juga muncul 😦 (ternyata gue ga suka menunggu!!).

Tapi, gue seneng banget karena sambil menunggu gue bertemu dengan temen-temen gue sepenanjakan gn. Ceremai Awal bulan kemaren 🙂 (Bang Hendro, Bang Manay, Bang Akbar, Bang Zaenal, Bang Adi dkk). Ngobrol sebentar karena mereka juga menunggu rombongan mereka yang lain. Kami pun memutuskan untuk ke atas menghampiri mereka di warteg, eh bukan dehh, semacam rumah yang menyediakan makanan mateng sihh, atau sama ajah ya??? terserah ddehh mau nyebutnya apa, yang penting makan dan minumnya teh panass… mantapp 🙂

Setelah makan, kami ber-5 memutuskan beristirahat sambil menunggu datangnya waktu pagi di teras rumah warga. Tiduran bersejajar, tepat di pintu belakang rumah. Tapi datang Kang Denz meminta kami bergabung dengan rombongan untuk Istirahat di Musolah didekat situ juga. Kami pun bergegas mengikuti kang Denz untuk sampai ke Musolah. Secara diluar lumayan dingin, dan di Musolah kita juga bisa Sholat Subuh berjama’ah nanti. Kami menempatkan diri masing-masing. Gue bergabung dengan pendaki perempuan lainnya sedangkan mereka ber-4 tidur bergabung dengan pendaki laki-laki lainnya.

Belum juga mata sempat terpejam, Adzan Subuh sudah berkumandang. Karena tidak baik jika kita sudah dipanggil tapi tidak menghampiri. Gue langsung mengambil perlengkapan mandi cuma untuk gosok gigi lalu dilanjutkan berwudhu. Subhanallah, Airnya…Maknyosss…dingine pooolll..!! 😀 Segerr…dijamin bikin mata ga jadi ngantuk.

Setelah shalat subuh berjama’ah kami semua menyibukan diri masing-masing untuk bergegas melanjutkan perjalanan. Ada yang Packing barang-barang, ada yang belama-lama di toilet, ada yang ngobrol, ada yang tidur-tiduran sebentar, ada yang cari sarapan.

Kalo kami ber-5 ke toilet bergantian, packing sebentar lalu sarapan. Sedangkan Bang Hendro dkk sudah menghilang dari peredaran alias hilang dari warteg. sepertinya mereka sudah melanjutkan perjalanan 😦 .

Setelah Kami dan Rombongan selesai sarapan, di Absen TS dululah supaya tidak ada yang ketinggalan, berdoa bersama dan mulai Tracking pukul 07.00 Wib.

Menyusuri Perkebunan Warga di kaki Gunung Gede 

Menyusuri Perkebunan Warga

Menyusuri Perkebunan Warga

Pendakian kali ini sangat ramai dengan pendaki lain, ada acara Anniversary Komunitas Gunung dengan berpakaian kompak berwana Hitam bergambar yang menjelaskan kepada kami sebelum bertanya kalau mereka sedang melaksanakan Anniversary. 🙂

Tegur sapa kami lakukan, bukan karena basa-basi tapi karena menjadi kebiasaan. Sesama Pendaki bersaudara (itu yang sering gue denger dan gue terapkan). Kami ber-5 terus melangkah menyusuri jalan yang cukup jelas sekali. Disini jangan takut kesasar tapi perlu juga bantuan teman yang sudah pernah kesini untuk wasapada. hehehe… (tetep takut kalo mendaki sendiri walau nantinya sudah pernah 🙂 )

Secara Gunung Gede Pangrango sudah Fenomenal dikalangan Pendaki Senior maupun amatiran. Jadi untuk kesini ga perlu takut kesepian, karena setiap harinya banyak orang yang melakukan pendakian dari penjuru manapun kecuali ketika Gunung ini di tutup.

Kami berjalan perlahan sambil menikmati pemandangan yang disuguhkan Gunung Gede dengan hamparan pepohonan tinggi yang meneduhkan kami dari teriknya Sinar Matahari. Alhamdulillah, Hari ini Cuaca sangat cerah, seolah Gunung Gede sangat mengizinkan kami untuk mendaki kali ini. Sesekali kami terdiam untuk beristirahat mengatur nafas, sesekali kami juga berhenti untuk mengabadikan view saat ini.

Bang Budi, gue manggil dia om Budi. hehehe 🙂 Om Budi melangkah yang paling terdepan dan gue mengikuti langkahnya dari belakang. Dia penunjuk jalan gue, yang ngebantu gue disaat kesulitan disana. Om Budi is Everything buat gue ketika disini.

Setelah kami berjalan kurang lebih 1 (satu) jam dari tempat kami memulai track sampailah kami di Pos Legok Leunca pada ketinggian 1.900 mdpl pada Jam 08.18 Wib. Karena di Pos ini sangat ramai dengan pendaki lain yang sedang beristirahat, kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan sambil mencari tempat untuk istirahat.

Melewati Pos Legok Leunca

Sambil berbincang-bincang kami menyusuri jalan, kadang mulut terdiam berjalan sambil mengatur nafas dan mengemut sedikit demi sedikit Sesachet Madu**** 🙂 .

Kadang gue suka ketawa sendiri melihat Om Momo dan Om Hendar yang akrab banget kaya permen karet sama anak kecil. Kami juga sering tertawa-tawa selagi gaya di Kamera udah terlihat ga banget. Ahhh… perjalanan ini tidak akan bisa terlupakan meskipun orang lain bilang ga Seruu… (Ga Perduli :p )

Huu Haa Huu Haa… Jam 08.24 Wib kami sudah cukup lelah dan kami memutuskan untuk beristirahat kurang lebih 5 menit di pinggir track dimana pendaki lain berlalu lalang.

Istirahat After Pos Legok Leunca

Istirahat 5 menit  After Pos Legok Leunca

Setelah beristirahat kami melanjutkan perjalanan, belum lama kami melangkah atau kurang lebih 8 menit kami berjalan kami sudah sampai di Pos Buntut Lutung di ketinggian 2.250 mdpl.

Pos Buntut Lutung 08.37

Kami terus melakukan pendakian, dan sepanjang perjalanan yang kami lewati disekitarnya masih berupa pepohonan tinggi dan tidak begitu lebat karena masih memaparkan cahaya matahari kedalamnya. Bernarsiz-narsiz ria pun kami lakukan. Alhamdulillah, sampai pada saat ini kami tidak mendapatkan kendala apapun.

Jam menunjukan pukul 10.07 Wib, kami bertemu dengan Om Akbar, Om Zaenal dan temannya yang sedang beristirahat sambil menyalakan api. Entahlah, maksudnya api itu untuk apa?? (Aneh) tapi yang jelas suhu cukup panas, jadi ga mungkin banget mereka sedang membuat api unggun :p . Tapi disana banyak terdapat sampah pelastik. Mungkin maksudnya sambil beristirahat sambil membakar sampah-sampah itu… (dengan api kecil dan terkontrol, dan sampah yang dibakar cuma sedikit..hehehe) jadi jangan khawatir ya… 🙂

Gue sedikit aneh disini, maklum ini pendakian Gunung Gede yang pertama kali. Gue ngeliat pedagang disini yang menjual bermacam minuman dan PoP Mie… Owh My God, jadi logistik yang dibawa dari bawah yang ngeberatin carrier temen gue gimana??? hahaha 😀 tenang ajah Logistik yang dibawa sangattt-sangat bermanfaat kok buat perut dan kantong. Secara butuh perjuangan para pedagang menjajakan dagangannya kesini, alhasil harganya melambung tinggi seperti harga bbm yang baru-baru ini naik. Tapi harga bbm dan makanan yang dijual disini mahalan makanan disini sihh hehehe… (Tapi ga ada salahnya, namanya juga mereka lagih nyari rejeki Yukz beliii…hihi :p ).

DSC07456

Om Denny..Om Zaenal..Temenya om Zaenal & Om Akbar

Disini kami beristirahat, Om Budi makan makanan yang dibawanya dari warteg tempat kami sarapan pagi sedangkan gue minum seteguk dua teguk air dan mengakhirinya dengan bernarsiz-narsiz ria. Karena setiap moment disaat mendaki ituh menurut gue sangat berharga, sebisa mungkin gue harus mengabadikannya dengan terpangpang muka gue walaupun lagih kumel berat. Saling berbincang, sekalian perkenalan. Kerana diantara mereka ada lohh yang belum saling mengenal..! emang iyahh?? perasaan udah kenalan deh pas Malem (Lupa 😀 ).

Setelah tenaga kita mulai pulih, lelahpun sudah hilang kami ber-5 memutuskan untuk kembali melakukan perjalanan. Sedangkan Om zaenal dkk masih tetap pada posisi yaitu bersantai-santai ria. Kami pun berpamitan untuk mendahuluinya..hehehe

Menuju puncak koma, kami mulai melewati track yang terjal dengan kemiringan kurang lebih 80 derajat dengan tanah merahnya yang menggembur. Om Budi mengulurkan tangannya untuk membantu gue menaiki gundukan tanah tersebut. Masih banyak tanjakan yang kami harus lalui yang akan menghadang kami setelah ini. Dan kami sangat siap untuk melaluinya…(berasa superhero).

Kemudian kami bertemu dengan Om Hendro dengan Cerrier kulkas 3 Pintunya. Terlihat sangat lelah, melihat gue hanya tersenyum dan kembali berjalan. Keringat di dahinya tidak kunjung kering, meskipun sudah di sapunya berulang kali. Owhhh…. Kerreennya om akuh, dengat keringatnya…(Secara gue tau dia gimana?sdotoyayam) . Gue cuma bisa teriak buat dia… “Om Onta… Cemunguutt ea!!!” :p .

Kami terus berjalan dan ketika lelah, kami beristirahat sesuka hati untuk berapa lamanya. Yang jelas ketika kami sudah merasa sanggup untuk berjalan lagi, kami pasti memutuskan untuk jalan kembali.

Kami bertemu kembali dengan Om Manay dkk yang sedang beristirahat. Dan kami menghampirinya untuk ikut beristirahat didekat mereka. Menceritakan Om Hendro yang sedang bersusah payah melewati track dengan Carriernya dan menceritakan pertemuan kami di bawah dengan Om Zaeanal dibawah dst…(lupa).

Seperti biasa kami melanjutkan kembali mendaki, hati gue berharap-harap cemas ingin menjumpai surya kencana (Surken) yang terkenal dengan dataran yang luas dihiasi dengan Edelweis yang terus saja hidup meski Cuaca hujan dan terik. Edelweis akan terus hidup jika tidak ada tangan-tangan jahil yang mencoba menyentuhnya hingga memetiknya.

Dan kami beristirahat kembali di sebuah Pos yang gue lupa namanya. Disini ada batang pohon besar yang tumbang. Kami sempat photo-photo disini juga.

SURYA KENCANA

Ya, sekarang gue berada di Surya kencana rumahnya gunung Gede. Gue Melihat Dataran sebagai lantai untuk kami berpijak yang luasnya sejauh mata memandang yang dihiasi bunga abadi Edelweis,  bertembokan pepohonan yang menjulang tinggi menandakan masih ada gundukan tanah yang harus kami daki, beratapan langit biru yang dihiasi awan putih. Matahari pun memaparkan terik sinarnya. Sesekali mereka menghilang ditelan kabut putih.

Setelah berlama-lama beristirahat kami melanjutkan perjalanan kembali kurang lebih 30 menit sampai dengan tempat kami membangun tenda. Awan putih berganti menjadi hitam, langit biru memudar menjadi abu-abu, mendung pun datang. Sedangan hari semakin sore, bergegas kami membangun tenda bersama-sama, setelah rapih kami masuk dan mengeluarkan semua barang yang ada di dalam carriel kami.

Udara semakin dingin, diluar semakin gelap, rintikan hujan pun menjadi butiran air turun dari langit. Memaksa kami untuk tidur didalam tenda untuk beristirahat setelah seharian berjalan kaki mengarungi ¾ track Gunung Gede menuju puncak. Kapasitas tenda yang dibawa untuk 4 orang karena ada gue, jadi sempit secara buat 5 orang. Hahaha. Butiran es batu menghampiri menghantam tenda kami.

Gue tidur paling pojok dari daun pintu tenda. Emang tenda ada pintunya ya?? Ya pasti kalian ngertilah apa yang gue maksud. Air mengalir membasahi sleeping bag yang gue kenakan. Gue ga hiraukan itu. Gue keep calm lanjut tidur. Tiba-tiba tubuh gue mulai terasa dingin, kulit ujung kaki dan tangan gue mengkerut. Sumpah dingin banget, tapi gue masih tetap nahan rasa dingin itu. Semakin lama tubuh gue menggigil, semua menanyakan keadaan gue. Dan gue tetap kekeh mengatakan kalo gue masih baik-baik ajah. Om Budi mengechek sleeping bag gue yang bener” basah. Dan gue langsung nangiss karena apah?? Udah lama kalo gue mau bilang kalo gue kebocoran disini!! Hahaha. Ethh, tapi beneran seriusan gue kedinginan broh, jacket gue basah, baju gue basah, sampai hati gue pun ikut basah….(lebaay).

Berharap hujan berhenti, dan gue bisa nyari teman-teman cewe yang satu trip sama gue (walaupun gue ga kenal mereka, tapi ini demi kalian supaya ga sempit-sempitan lagih, dan demi aku supaya ga kebasahan lagih) hehe. Atau gue numpang tidur di tendanya om onta dkk yang gede banget.

Hujan pun berhenti, Om Budi mencari rombongan kang dens yang lain. Sementara gue nunggu di tenda bersama yang lain. Tapi Om Budi kembali pun tidak ada kabar baik, mereka tidak ditemukannya. Gue dan Om Budi pun keluar menghampiri tenda Om Onta.

Gue keluar bersama dingin yang begitu menyejukan gue, menyusuri jalan gelapnya malam dengan bekal headlamp di kepala Om Budi, Dia didepan gue menghantar gue ketempat tujuan. Jiahh… ternyata Om Onta dkk lagih mengalami bencana kebanjiran secara dia pasang tenda tepat di mana air mengalir. Aku melihat mereka mengangkut barang-barangnya ke tenda yang sudah berada di atas sedikit demi sedikit, sementara ada yang menggigil di dalam tenda dengan baju basah yang dikenakannya, alasnya pun berair.. aku pun ga bisa masuk karena mereka pasti sedang sibuk-sibuknya. Sementara disamping tenda Om Onta ada pendaki lain yang sedang sibuk mengobati temannya yang terkena Hippo.

Gue sadar rasa dingin yang gue alami tadi pas hujan tidak sedingin yang mereka rasakan sekarang. Gue ke atas sedikit mengahampiri tenda yang lain, pendaki yang pernah kita temui di cermai dan kita sempat photo bareng kok sama mereka dicermai waktu itu. Gue ga terlalu kenal nama, mungkin hanya kenal wajah. Gue dan Om Budi menghampiri mereka, dan menikmati secangkir Indocafe yang mereka buat didalam tenda. Mereka membuat lingkaran didalamnya sambil berbincang-bincang mungkin untuk membunuh udara dingin yang berada disekitar kami.

Om hendar datang juga ke tenda yang kami kunjungi, dan dia bilang akan masak makan malam. Asiiiikk… kita pun bergegas kembali ke tenda. Sebelum sampai ke tenda aku sempat menoleh :

 

Sungguh aku tidak pernah melihat malam seindah ini,

Aku menatap langit, bintang berhamburan menghiasinya

Seolah tadi tidak pernah terjadi hujan,

Aku melihat kedepan, Hamparan Lampu-lampu dari balik tenda warna-warni begitu terlihat indah,

Mereka begitu menyempurnakan malam ini..

Dingin yang aku alami sirna dalam lamunan malam ini…

Hujan membasahi semua yang ada disini…

Termasuk hati ku,

Hatiku begitu luluh memandangnya, merasakannya…

Begitu indah kuasa-Mu ya Allah

 

Aku melihat seorang yang selalu ada didekatku

Dia tetap berdiri, tidak goyah pada pendiriannya…

Aku tidak pernah membohongi perasaanku,

Apa yang kamu tahu itulah kebenarannya

 

Terima Kasih untuk malam yang indah ini, bersamamu menikmati ini semua adalah sebuah kesempurnaan. Teruslah seperti itu, jangan hiraukan apa yang aku katakan, biarkan aku saja yang menjadi gila.

 

Om Denni & Om Hendar sedang masak, Gue, Om Momo & Om Budi tidur (menunggu masakan dihidangkan). Kalian Koki terbaik malam ini. Setelah makan pun kami bergegas tidur.

Tengah malam gue merasakan hal tidak enak diperut gue, gue mau keluar sendiri takut. Tapi gue lihat mereka semua sedang tertidur pulas gue ga mungkin mengganggu mereka. Gue tahan, tapi tubuh gue ga bisa diem, rusuh sendiri karena ngerasa ga nyaman. Om Hendar juga terbangun, menanyakan ada apa? Ke gue. Ternyata kita merasakan hal yang sama, kita buru-buru keluar dengan senter. Kami bergantian, saling menjaga satu sama lain masuk kedalam hutan yang ga jauh dari tenda. Alhamdulillah, Legaaaaaa….

 

Pagi tiba, sepertinya tadi malam adalah mimpi indah. Tiba-tiba terdegar banyak tukang dagang nasi uduk berdatangan menjajakan dagangannya, gue ketawa ga berhenti mendengar itu. “Gue lagi digunungkan?” (aneh). Gue memesan gorengan sambil membayangkan panasnya bakwan yang akan gue makan. Pas gue makan, “Apaan?” ini bakwan jauh dari harapan, dingin total hampir beku. Om budi ketawain gue lalu tidur lagi. Ehmmm

Gue bangun rapih-rapih untuk ikut Om momo & Om Hendar hunting photo. Kabut terlihat mengelilingi tenda-tenda. Rumput-rumput meneteskan butiran-butiran embun pagi. Pohon Edelweis masih basah efek hujan semalam. Matahari perlahan-lahan muncul dari sebelah kiri kami. Hingga lama-lama kelamaan berada sejajar dengan kami. Cahaya menghangatkan tubuh kami yang sedang kediginan. Secangkir Susu panas yang Om Hendar pesan menghangatkan perut kami (satu cangkir bertiga). Nikmatnya merasakan kebersamaan bersama kalian.. J

Setelah matahari sudah semakin naik, kami kembali ke tenda dan mulai membagi tugas. Gue dan om Budi Cuci piring bekas makan malam & mengambil air untuk masak. Om Momo, om Hendar & Om Denni masak sarapan. Setelah itu gue dan om budi juga sibuk packing-packing seadanya, mengeluarkan semua barang2 dari dalam tenda dan menjemurnya dibawah sinar matahari yang semakin terik. Tenda yang kita bangun pun, Om Budi & Om Denni rapihkan kembali seperti semula. Packingan kelar sarapan pun sudah siap kami santap. Kerjasama yang baik. 😀

Tiba-tiba didepan kita terlihat dua orang cewe sedang berphoto-photo ria. Dengan fashion kekinian dan make up berlebihan tidak lupa dengan gaya kekorea-koreaan. Semua mata pendaki cowo melihatnya tidak berkedip bahkan minta photo bareng. Ga penting juga sih gue ceritain ini, tapi kesel ajah liat dia ngeliatin mereka. (ceritanya jeleous ga jelas..haha). ya sudah lupakan.

Kita merapikan sisa-sisa yang harus kita rapihkan lalu kita menuju puncak. Pendakian kali ini ga ada cerita mengejar sunrise, tapi menikmati kebersamaan ini.

Rame banget ya Puncak gunung Gede Pagi ini. Gue ga bisa ngeliat jelas kebawah kawah karena tertutup kabut. L setelah mengambil beberapa gambar kita berlima dipuncak. Kita bergegas turun lewat jalur cibodas.

Sepanjang jalan turun Om Budi cuekin gue, gue kejar dia makin keneceng jalannnya. Gue tawarin roti yang udah gue bubuhin susu. Dia ga mau malahan lanjut jalan. Tapi ditanya ga jawab, gue berusaha deket dia. Dia ga hiraukan ituh. Sampai di Pintu masuk Gede Pangrango Penjelasan dari dia “Kalau naik sama-sama, turun harus juga sama-sama”. Terima Kasih om Budi atas pelajarannya. Aku janji tidak akan se-egois ini lagi).

Kami istirahat sejenak merebahkan tubuh di basecamp mang idi. Memesan Nasi Goreng telor Dadar & Teh Panas. Thanks All

Setelah istirahat kami cukup, kami melanjutkan turun dengan angkot yang hantarkan kami kejalan utama untuk menaiki Bus jurusan Kp. Rambutan. Kami menungu lama dipinggiran jalan hingga mati gaya, semua bis penuh. Kami mau nebeng pun semua mobil bak ada muatan, sekalinya adapun mobilnya menuju pasar cibodas (kembali keatas). Cedih barbie kalo begini terus… Setelah sekian lama ditolak bus, akhirnya kami dapat juga walaupun harus lesehan dibawah, selama ada kalian dalam kondisi apapun aku tetap bahagia. “Sampai jumpa di Trip Berikutnya”

 

 

Ya Allah,

Aku semakin sadar aku sangat mencintainya,

Kebersamaan ini semakin membuat aku berharap akan dirinya,

Tapi, aku tahu dibalik ini semua ada wanita yang sedang diperjuangkannya
Aku tidak menyangka sesingkat ini aku jatuh cinta,

Aku tidak yakin akan dapat dengan mudah melupakannya
Aku mohon beri tahu aku, haruskah aku menyimpannya

Atau aku harus mengatakannya hingga jatuh harga diri…

Ya Allah,

Dia memberikan apa yang orang lain tidak pernah berikan padaku

Biarkan aku terdiam sejenak untuk berfikir tentang ini,