Gunung Guntur

 

Pendakian Gunung Guntur tanggal 16 Agustus 2013 sampai dengan 19 Agustus 2013.

22.jpgOwh iya gue pengen kasih tau ke kalian kalo 16 Agustus 2013 hari kelahiran gue, yang pasti di hari itu adalah momen spesial buat gue. Dan berharap kalian ngasih hadiah buat gue #mimpi. Tadinya gue berencana nanjak gunung Slamet bersama Om Budi dkk, tapi gue membatalkan sepihak dengan alasan engga dibolehin sama nyokap. Padahal ada Something yang buat gue ga ngikut 😀 . Setelah hari terus berganti gue pusing sendiri dengan apa yang gue putuskan, Liburan besok ga muncak tuh kaya ada yang kurang. Dan melihat di mbah Google memukaunya gambar gunung guntur, hati guepun terpanggil untuk mendakinya. Tapi semua temen-temen gue mucuk punya planning nanjak masing-masing yang ga bisa gue cut seenaknya.

Dan semakin hari gunung guntur ini kebawa-bawa dimimpi gue, dan om Hendro yang menjanjikan gunung Guntur itu buat gue, lepas tangan gituh ajah dengan alasan ga ada temen yang laen kesana buat barengan. akhirnya dia ngasih harapan kosong gn guntur buat gue. #sabarsabar

Karna terlanjur kepengen, gue harus nanjak ke gn guntur bagaimanapun caranya. Takut anak gue ngiler #omonganngaco. Gue langsung beraksi pasang Status di grup BBC “Backpacker Bogor Comunity”, ajak orang sana-sini. Dan semua ga bisa, kecuali Bang Yogi (temen gue selagi mendaki gn Salak) dia yang comment pertama di Status gue. tanpa basa-basi gue langsung respon dengan senyuman bahagia. :p thanks Bang Yogi..hehehe

Terus gue ajak Mba faridha (tmn gue yang nanjak bareng gn Papandayang), dan hasil awal dia mau reunian di Papandayan lagi sama2 temen-temen barengan gue ke Papandayan bulan Maret Silam. Huffhhh…Lelah, lesu, ga semangat… 😦

Ulang tahun gue kali ini harus di Guntur, meskipun gue harus nanjak sendiri.

God, Please ! Amin (do’a orang putus asa)

Dua hari kemudian tepat 10 Agustus 2013, Mba fa ngabarin lewat inbox kalo Mba Fa dkk pindah haluan ke Guntur.
:iconbummy2::iconbummy1::happybounce::iconbummy2: :iconbummy2::iconbummy1::happybounce::iconbummy2: :iconbummy2::iconbummy1::happybounce:
Alhamdulillah, Thanks God 🙂 Love U Forever. SEmua langsung terencana begituh ajah. Maaf berulang kali, gue suka terlalu lebay dalam menggunakan kata-kata. Tapi, sumpah gue deg degan abis, karna mau ngeliat indahnya gunung guntur dan ketemu kedua kalinya sama temen-temen baru gue.

Dan Om Hendro ikut bersama temen cewenya yang sebelumnya gue ga pernah kenal. Pendakian kali ini kita ber-10, terlalu panjang kalau harus menceritakan satu per satu. Tapi kami adalah Pendaki yang keren :iconlachoirplz:dan bertanggung Jawab #Narsis :D.

Kita :

1. Ponco
2. Bayu
3. Ipul
4. Firman
5. Encex
6. Hendro
7. Fridha
8. Dewi
9. Sari
10. Gue

Meeting Point di Pintu keluar Kampung Rambutan TNI AD atau tepatnya di warung Indah Jam. 20.00 Wib. Gue udah wanti-wanti supaya ga ada yang bawa jam ngaret pas meeting point, tapi tetep ajah ada. Kita nunggu sekitar 2.5 jam dari jadwal gara-gara nunggu dua orang yaitu Firman dan Bayu. SELAMAT, kalian berdua sudah membuat kami menunggu PARAH! 😥 #pasangmukakesel .

Kp.Rambutan

di Kp.Rambutan

Setelah  Bayu dan Firman datang, kita bergegas bangun dari duduk untuk berjalan sedikit ke arah dalam kp. Rambutan untuk mencari Bis menuju Garut. Sebenarnya, ada tepat di depan kamibus menuju garut, tetapi Penuh dengan pendaki lain. Jadi kami mencari yang kosong bisa lainnya.

Sesampai nya di SPBU Tanjung Guntur sekitar jam. 02.00 Wib tanggal 17 Agustus 2013, kami beristirahat disini menghabiskan malam menunggu datangnya Pagi. Jam 04.30 Wib, kami shalat subuh berjama’ah. Setelah itu Ada yang bergegas bersih-bersih, Sarapan, dan melengkapi logistic yang kurang. Dan Photo-photo dulu sebelum mulai perjalanan lagi.

w3

Bang Ponco & Bang yogi yang mencari Truk pasir yang bisa kita tumpangi, tentunya ga gratis. Berhubung ada 3 (tiga) kelompok yang beristirahat di SPBU Tanjung dengan tujuan yang sama yaitu ke Gunung Guntur. Maka inisiatif bang Ponco ajak mereka join ke truk yang kita tumpangi dan pe-te pe-te dengan harga Rp.10.000,-/orang. Berikut hasil Foto-foto di Truk Pasir :

w1

 Ternyata engga selamanya perjalanan itu selalu menyenangkan, perjalanan kali ini ada musibah yang terjadi sama temen seperjalanan gue (Bang Hendro). dia kehilangan Dompetnya plus isi-isinya.. :iconbegplz: . Sepanjang jalan gue cuma bisa ngeliatin dia, auwhhh pastii ngenes bgt hatinya secara semua identitasnya ada dalam itu yang paling penting. ” untuk yang menemukan tolong hubungi kami ya!” #lebay. Kalau cewe di jadikan Saudara bang hendro kalau cowo juga.. (ga rela kalo ada yang jadian sama bang hendro, jadi ga ada pilihan selain jadi saudara :p ..hehehe).

Owh iya, Ratusan detik yang kita lewati disini, dan detik yang kita lewati ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk kita. Dan berharap ini bukan kesempatan yang terakhir untuk kita bersama mendaki gunung Guntur. So, gue ga akan melepaskan pandangan gue dari indahnya ciptaanya. Terutama dengan teman2 seperjalanan gue yang kerren abis.

Satu malam udah gue lewatin bersama mereka di Mobil hingga berpindah di Masjid SPBU Tanjung, dan nanti gue akan bermalam di Puncak yang selama ini gue ingin lihat. Amin.

Truk yang kita tumpangi hanya mengantar kita sampai Curug Citiis, setelah itu kita menyusuri aliran air curug citiis hingga menyebranginya. Owh iya, sekedar info buat yang belum pernah mengunjungi Gn. Guntur, kalau Gunung ini tidak ada perijinan. Sehingga tidak ada Asuransi untuk para pendakinya, dan kita dapat mengunjungi Gunung ini kapanpun kita mau. Tapi, tanggung jawabkan diri masing-masing yah.. Berikut Photo-photo kita saat menyebrangi aliran curug Citiis :

Disni kita akan melawan arah air dan melewatinya, Dan take care saat berada disini dan pada saat menyebrangi aliran air. Karna batu yang kita pijak bisa saja licin dan goyah. Disini kita juga wajib coba merasakan sejuknya air Curug Citiis. Curug Citiis adalah tempat terakhir kita menemukan air, Jadi yang akan mucuk yang persediaan airnya masih minim bisa diisi disini untuk masak di Puncak nanti.

w2

Solidaritas kami untuk saling tolong menolong alhamdulillamasih terjaga 🙂

Setelah kami melewati Aliran Air ini, kami berjalan sebentar dan mulai mendaki bebatuan yang sangat curam. Sesekali kami beristarahat untuk menunggu yang lain, sesekali kami beristirahat untuk mengatur nafas kami sambil meneguk air minum yang kami bawa.

w5

Kami mengulurkan tangan  ketika yang lain membutuhkan pertolongan. Biasanya ketika dibebatu-batuan yang tinggi yang harus dengan penuh usaha dan ke hati-hatian kita menaikinya (Hidung bertemu dengkul)… Dan kami pun memutuskan untuk beristirahat ketika menemukan tanah yang rata tanpa menghalangi pendaki lainnya yang berlalu-lalang.

Bonus, kami menyebutnya bonus. Sebelum sampai puncakpun kami sudah disuguhkan keindahan guntur. Karena tidak ada pos jadi saya sebut saja tempat istirahat kami yang pertama (peristirahatan pertama) berikut hasil dokumentasi di tempat istirahat pertama :

w4

Setelah kurang lebih 15 menit, kami melanjutkan kembali perjalanan. Dan kami menyusuri Ilalang yang tingginya melebihi tinggi kami. Panas terik tidak menghentikan kami untuk tetap berjalan. Kami berjalan santai sambil menikmati perjalanan ini dengan harap-harap cemas menemui Puncak Gunung Guntur. Dan sesampainya pada sumber air terakhir yang kami temui sepanjang perjalanan ke puncak nanti kami mengisi ulang tempat air kami full untuk perjalan selanjutnya dan untuk masak-masak di Puncak. …. :icongotea: .

Tidak lama kemudian, gue dan kawan-kawan melanjutkan perjalanan kembali. Cuaca saat itu sangat terik dan jarang sekali ditemukan pohon rindang. Sepanjang perjalanan sangat menguras keringat karena terlalu panas. Kami menyusuri jalan setapak berpasir, yang kadang kala dapat menggelincirkan kami. Dan di pinggir sepanjang jalan tersebut di penuhi dengan alang-alang yang cukup tinggi. Dan berhubung sepatu gue bukan sepatu gunung dan telapaknya rata. Rasanya susah banget untuk sampe puncak karena terlalu sering kepeleset. Tapi, karena keyakinan gue untuk mengarunginya, dan gue bisa mengikuti yang lainnya tanpa harus merpotkan mereka.

Pukul 12.00 Wib : dari kejauhan mata gue memandang, terlihat ada sebuah pohon yang rindang yang dibawahnya sudah ada beberapa pendaki lain yang beristirahat bahkan sampai terlelap. Karena adzan dzuhur sudah berkumandang, gue, sari, frida memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menunggu yang lainnya di bawah pohon tersebut tanpa mengganggu pendaki lainnya. Zzzzz … :iconwarmandcomfyplz:

Kurang Lebih 30 Menit kita beristirahat, kawan-kawan yang lain menghampiri. Kami pun melanjutkan perjalanan kembali masih menyusuri tanjakan berpasir yang tidak kunjung berganti.

Lalu bertemu Bang Yoga, Encek, Ipul, Firman dan bayu yang telah tertidur di bawah pohon selanjutnya. Mereka menyiapkan Webbing yang terikat pada batang pohon tempat berteduh mereka dari panasnya sinar matahari. Dan menjulurkan lidah webbing ke bawah untuk membantu yang lainnya saat pendakian di tempat tersebut.
pog57p8bdeyf82cccardwvj25d3tba8n
Istirahat lagih… sambil memandang Gunung Galunggung, Gunung Cikuray dan gunung-gunung lainnya yang tidak gue kenali dari sini. Diatas langit awan seperti berjalan kadang menutupi matahari dan kadang meninggalkan kami untuk berpanas-panasan kembali dan Angin sesering mungkin meniup-niup tubuh kami yang sangat gerah berkeringat bercucuran. Ahhh Sejuknya… Terkadang Pasir dan bebatuan berjatuhan ke arah kami yang beristirahat saat yang berada diatas kami berusaha mendaki keatas untuk mencari tempat istirahat. Kadang yang diatas merosot kebawah hingga membuat kami saling tarik menarik tangan ketika akan terperosok kebawah.

Subhanallah, Tangan kami tidak pernah memilih-milih siapa yang harus kami tolong. Dan tangan kami terus kami ulurkan sebelum diminta. Thanks God, Kau berikan hati yang luas kepada kami, sehingga kami dapat melakukan ini semua. Dan ini Nikmat yang sangat membahagiakan.

Beristirahat sambil menunggu yang lainnya. Setelah semua anggota berkumpul dan beristirahat kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Tanjakan semakin curam dan tidak akan berhenti sampai menemukan puncak. Satu persatu berjalan dengan hati-hati karena takut pasir dan bebatuan menimpa yang berada dibawah/yang belakang.

Di 3/4 track, mata gue mulai redup, semua yang ada disekeliling gue berputar. Gue ga mau berhenti disini sebelum puncak gue gapai. Kata, Ipul sedikit lagi sampai Puncak. Gue terus melanjutkan pendakian, sementara matahari masih terus menantang gue untuk beradu nyali dengannya. Sedangkan waktu menunjukan pukul 15.00 Wib. Gue dan yang lain belum makan siang. Alhasil, tubuh gue hampir jatuh kebelakang dan mungkin akan ga sadarkan diri. untungnya ipul berada dibelakang dan narik tangan gue. Dan meminta gue beristirahat.

Setelah pusing gue hilang, gue dan ipul melanjutkan perjalanan lagih. Step by step gue melangkah. 6 kali kaki melangkah 1 menit gue beristirahat untuk mengatur nafas.  Dan itu terus gue lakukan hingga mencapai puncak satu. Di pinggir bibir kawah gue mendamparkan diri melihat ke atas betapa mebirunya langit, betapa sejuknya angin berhembus, betapa hijaunya hamparan tanah yang kami pijak, sambil melihat yang lain memasak air. Dan mereka (Bang Yoga, encek, firman,ipul, bayu) memberikan segelas teh panas untuk gue.  :icongotea: Sruuuppp ahhhhh…. Mantap…

Sambil menunggu yang lain, berhubung gue cewe pertama yang sampai ke puncak narsis-narsis dulu ahh…. Dan ada yang pasang tenda untuk bermalam kami sambil menanti summit ke puncak utama gunung Guntur. Cek it dot.. 🙂

:iconashleyxbrooke:  ahayyy… :p
ay72ssr9g3tris337721mm3e9fvnf71m

Setelah Tenda terpasang, kami menyibukan diri masing-masing. Rata-rata mereka semua menyibukan diri untuk masak makan malam. Semua Logistic yang dibawa dikeluarkan dari masing2 Carriel. Dan Pendakian kali ini sebenarnya gue dan mba Frida berencana masak sayur Sop. Tapi persediaan air yang begitu minim hanya untuk persedian minum besok pagi Summit ke Puncak, untuk masak sarapan pagi dan untuk persediaan turun kembali untuk kembali ke Curug Citiis. Tapi, karena bahan2 hampir sama dengan cap cai. Mba Dewi memutuskan Bahan2 Sop akan dibuat untuk Capcai.

Menu Makan Malam kali ini :
1. Nasi
2. Telor dadar
3. Sosis
4. Nuget
5. Cap Cai, dsb (hehe, lupa udah makan apa ajah???)

Owh iya, gue bukan ga ikut berpartisipasi masak bersama kalian gara2 males. Tapi, pengalaman gue selama gue ikut ke dapur di rumah gue. Semua jadi berantakan. So, maap ya gue ga bisa bantuin masak2 kali ini. Tapi, gue janji kok bakalan bantuin makan makanan yang kalian udah masak :p . Yang pasti next gue akan belajar masak dirumah, untuk masak di pendakian-pendakian berikutnya yang pasti buat masakin calon suami gue (hahaha, usaha).

Sementara, gue solat Ashar & Dzuhur bergantian dengan yang masak-masak. Sumpah rame banget saat itu dengan ocehan ga penting bang Ponco, tapi ga papah. Ga ada musik, bang Ponco pun Jadi :p . (Pisss, bang gahol :p ). Suara bang Ponco menghilang saat bang Ponco sudah terlelap. So, kalo gue nanjak sama dia lagi gue berencana bawa obat tidur untuk dia (Niat Jahat 😀 ) lirik kanan-kiri takut kebaca orangnya.

Makan malam siappppp untuk di santap… !!!
Sttt, sebelum makan baca do’a dulu donk… Come on, bang Ponco sebagai sesepuh pimpin do’a dulu ya… 😀 ….

“Nyesel, ga ada dokumentasi Pas Makan Malam 😥 ” (Please yang punya pas moment makan malem share donk… Ngareeeep bgt :p )

Seusai Makan :

Malam semakin larut, jam pun terus berganti arah, Kabut memendamkan kami di lereng lembah gunung guntur, kami terlelap didalamnya. Sehingga kami tidak dapat melihat apa pun, yang ada hanya kegelapan. Dan udara yang dingin memaksa kami untuk menyelimuti tubuh kami dengan jaket2 yang kami bawa.

Nafas kami mengeluarkan asap yang begitu jelas terlihat. Sungguh saat itu gue benar-benar dalam keadaan kedinginan. Dan gue orang paling bodoh seduania, karena ga bawa Sleeping Bag saat itu. Alhasil, gue mati kutu dengan ulah gue sendiri.

Gue masuk tenda sendiri, berharap ada kehangatan didalamnya. Tapi, tenda pun menjadi dingin. Bagaimana gue??? gue harus apa saat itu?. Gue berharap yang lain ga tau, kalo gue dalam keadaan benar2 kedinginan. Tenda pun terlalu sepi buat gue, kalo gue berada didalamnya terus2an… Pasti ga akan ada banyak cerita di gunung Guntur ini. Gue pun keluar menghampiri yang lain, dengan kaki mulai mebeku seperti tertusuk jarum senyum terpaksa pun gue keluarkan. Dan berharap api unggun yang sudah berkobar dapat menghangat gue. Dan itu sangat nyaman rasanya. Walau dingin ini ga menghilang juga.

Gue nyerah, gue benar2 harus ke tenda sendiri. Setelah melihat kesibukan mereka diluar bermain kartu, ada yang sibuk mempertahankan api unggun. Sedangkan Mba Dewi siap memasak air untuk membuat kopi, teh, susu dsb. Setelah gue menegukan susu jahe. gue pun meninggalkan yang lain untuk tidur di tenda sambil menahan dingin gue menutup mata.

Suara mereka diluar masih terus terdengar, tawa, canda mereka pun meramaikan lereng gunung guntur. Seolah-olah hanya ada kami disini. Owh…Keindahan untuk kesekian kalinya aku rasakan.

Terima kasih Allah, Kau lengkapi kebahagiaan ku dengan menikmati ciptaanMu.

Entahlah, sudah pukul berapa sekarang. Tubuh gue menggigil hebat, gigi bawah dan atas gue beradu hingga menimbulkan suara. Mba Dewi, Mba Frida, Mba Sari sudah terlelap. Gue lagi-lagi menahan agar mereka tidak terganggu dengan keadaan gue. “Seandainya ada kaka aline, pasti gue akan bilang terus terang dari awal tentang keadaan gue yang sedang kedinginan hebat”. terus menahan dingin sambil mendengar tawa diluar lagi. Dalam hati terucap “ga kuat nih!!”…

Beberapa lama kemudian, Bang Hendro datang untuk tidur. Gue diam berusaha menahan kedinginan, tapi tubuh gue terus menggigil meski gue udah tahan semaksimal mungkin.

Dan pada akhirnya ketauan deh “Kalo gue kedinginan hebat” hehehehe 😀

Makasih ya Mba Dewi atas pelukannya…
Makasih juga ya Bang Hendro atas Sleeping Bagnya…
Makasih juga bang Ipul atas sarung tangannya…

Sumpah, beneran ga ada niat kok buat nyusahin kalian disana.. 🙂

Pukul 05.00 Wib :
Semua bergegas bangun untuk summit ke Puncak. Awalnya gue ga boleh ikut sama bang Ponco. Tapi woiii denger semua”i’m coming, Pagi ini gue baik2 saja” keep smile ahhh… :p

Terlihat Bang Hendro tidak membangunkan dirinya meski sudah gue bangunin berkali-kali. Gue bingung mau mucuk apa engga setelah melihat Bang Hendro. Pasti dia kedinginan dan ga bisa tidur gara2 Sleeping Bagnya gue pake. Pura-pura sedih ahhh… “Maap ya Bang Hendro aku tinggalin mucuk, walaupun aku tau kamu ga mucuk gara-gara akuh 😥 😀 , bye ” hehehe

Sebelum mucuk seperti biasa yang mau selamat kita wajib kudu berdo’a, ber do’a dulu yukz…!!!

Satu per satu menyusuri jalan dengan bekal lampu Headlamp dan Senter. Mengikuti langkah yang paling terdepan (yang buka jalur). kali ini kita menyelesaikan pendakian yang tertunda, medan masih alang-alang, batu kerikil dan pasir. Dan kami lewati beberapa meter tanah berpasir yang mengeluarkan asap bau belerang. Kurang Lebih 15 menit kita telah sampai di Puncak ke-2 Gn. Guntur.

Kami berhasil mengabadikan Sunrise 18 Agustus 2013. H+1 dari hari kemerdekaan RI.

Check check check it dot (nge-rep) 🙂

SunRise 18 Agustus 2013 di Gunung Guntur

SunRise 18 Agustus 2013 di Gunung Guntur

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Puncak II Gunung Guntur bertepatan tanggal 18 Agustus 2013. Alhamdulillah, Bersama-sama kami melihat kekuasaan Tuhan yang tersembunyi di balik Puncak Guntur. Kami tidak akan melihatnya jika kami tidak mendakinya saat itu. Terima kasih ya Allah, kuasa-Mu tidak akan pernah berhenti untuk Kau tunjukan kepada kami. Kami bersyukur pada Mu karena kami diberi kesempatan untuk melihat keindahan hari itu yang mungkin saja tidak dapat terulang lagih.

Ya Allah, izinkan kami untuk menemui keindahan-Mu ini berulang kali dan tetap menyimpannya di hati kami. Gambar yang kami ambil dan tulisan yang kami buat.

Semoga Bang Hendro dan teman-teman yang lainnya akan dapat kesepatan dilain waktu untuk melihat keindahan ini. Amin.

God, I Love U So Much, You my Everything & Everythink….. 😥 (Menangis karena bersyukur, takjub dan Bahagia)

Setelah sampai Puncak III kami tidak memutuskan untuk lanjut ke Punak IV karena waktu semakin siang. Sedangkan kami harus Packing, masak dan bersih2, lalu di lanjutkan turun. Mungkin jika Allah masih mngizinkan dan ada kesempatan kami akan menginjakan kaki di Puncak IV Gunung Guntur di Lain Waktu. Amin.

Puncak Gunung Guntur hari itu menunjukan keindahannya meski hari sudah siang. Bahkan semakin Indah, dan semakin sombong memperlihatkan tiap lekuknya. 🙂

Kurang lebih 15 menit kami sampai di tempat Camp. Lalu masak. tidak tahu apa yang kami masak saat itu, aku hampir luma karena banyak menu di sajikan agar Logistic yang kami bawa kemarin tidak akan kami bawa kembali turun. Setalah makan, Packing & bersih-bersih sampah kami bergegas melanjutkan perjalan turun.

Sebelumnya kami berdo’a sejenak agar kami diberi keselamatan hingga samapai rumah masing-masing. Kami benar-benar hanya meninggalkan jejak disan dan berharap jejak kaki kami yang kami tinggal akan membimbing kami kembali saat pendakian berikutnya.

Jalanan berpasir dan bebatuan ini dengan kemiringan hampir 80 derajat, memaksa kami melangkah perlajan-lahan dan hati-hati dengan batu yang kami pijak. ALang-alang juga turut membantu kami sebagai pegangan agar tidak terjatuh.

Tidak lama, kemudian alang-alang yang gue pegang kuat-kuat putus seketika dan menggelindinglah gue hingga jauh. Semua teman hanya terdiam membisu melihat ke arah ku, karena yang lain sibuk dengan kehati-hatiannya masing2 dan teman yang di ajaknya. Beruntungnya, di bawah ada pendaki lain yang menghentikan tubuhku lebih jauh terguling. Thanks ya… 🙂 Dan semua teman gue dan pendaki lain meminta gue untung perosotan. Hahaha dengan senang hati gue menyetujuinya… (Masa kecil kurang bahagia) yuhuuuuu… :p

Di tengah perjalan gue barengan sama pendaki dari UNJ. Dia yang buka jalan karena sepatu gue jebol…ga mungkin juga gue memaksakan diri untuk tetap perosotan di pasir bebatuan. 😦

Kami sempat terpisah, gue ber-4 menunggu yang lainnya di aliran air curug citiis. Dan benar yang lainnya menghampiri kami disana. Karena kami lelah, kami istirahat di pinggiran aliran air. Bersih2 lagih, sholat  dan karena lapar kam pun memutuskan masak mie yang masih sisa. Aseekk makan lagihhh… 🙂 Dari sini perjalanan udah ga jauh lagih kok sampai ke tempat kami naik truck pasir.

Setelah selesai semua kami melanjutkan perjalanan ke tempat pemberhentian terakhir truck pasir. Sempat menunggu lama, tapi waktu menunggu kita buat rileksin kaki masing2. Truck Pasir pun datang dan mengantar kami hingga terminal Guntur. Di terminal Guntur kami bersih2 untuk Shalat, makan dan naik bis ke Jakarta dan pulang ke Rumah Masing-masing. Waktu ituh saya sampai rumah kira-kira Jam 03.30 Wib. 😦

Alhamdulillah kami selamat sampai Rumah masing-masing. 🙂

Ini cerita kami, dan gue sisipkan sekelumit tentang Gunung Guntur dibawah ini !! Check It Out !!

Gunung Guntur adalah sebuah gunung yang terdapat di wilayah barat Garut,Jawa Barat, dengan ketinggian 2.249 meter dpl.

Gunung Guntur terletak di lokasi geografi : 07 derajat 08’30” LS dan 107 derajat 20′ BT.

Gunung Guntur mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukithutan Dipterokarp Atashutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Gunung Guntur merupakan salah satu gunung berapi paling aktif pada dekade 1800-an. Tapi sejak itu aktivitasnya kembali menurun. Erupsi Gunung Guntur pada umumnya disertai dengan lelehan lava, lapili dan objek material lainnya.

Erupsi Gunung Guntur yang tercatat adalah pada tahun 1847, 1843, 1841, 1840, 1836, 1834-35, 1833, 1832, 1832, 1829, 1828, 1827, 1825, 1818, 1816, 1815, 1809, 1807, 1803, 1800, 1780, 1777, 1690.

Lukisan Junghuhn-Gunung Guntur 1856

Lukisan Junghuhn Kawah Gn.Guntur (1856)

Hasil Photo Kami Kawah Gn.Guntur (2013)
Hasil Photo Kami
Kawah Gn.Guntur (2013)

 

 

 

 

 

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Guntur

Yuk kunjungi kembali Gunung Guntur, karena setiap perjalanan punya cerita yang berbeda walaupun tujuannya sama yaitu Gunung Guntur 😀

Transportasi dari Jakarta (Terminal Kp.Rambutan) :
1. Bis Jurusan Jakarta – Garut PP  Rp.75.000,- (Harga dapat berubah-ubah sesuai dengan tarif yang berlaku).
2. Truk Pasir SPBU Tanjung – Curug Citiis Rp.10.000,- (Min.10 Orang)

Cukup sekian Cerita Perjalanan dan Info dari gue. Kurang lebihnya Mohon Maaf.

Sampai bertemu di Puncak Berikutnya “Salam Lestari”

Selesai Penuisan Tanggal 31 Januari 2014

Iklan

2 responses to “Gunung Guntur

  1. Ping balik: Bandung to Bali XXXiv – The Wedding at Garut | Chas Spain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s