Gunung Gede

Pendakian Gunung Gede tanggal 28 – 30 Juni 2013

Surya Kencana

Surya Kencana

Wah telat ga ya untuk ceritain perjalanan ini ke teman-teman semuanya. Tapi sumpah gue ga bisa ngelupain Malam melihat bintang setelah hujan bersama kawan, menanti matahari untuk menghangatkan tubuh dalam dingin bersama mereka. Ditemani secangkir susu jahe hangat yang dibuatkan oleh teman juga.

Kami berangkat ber-5 (bang Budi, bang Hendar, Bang Momo, Bang Deni dan gue) bertemu di Terminal Kampung Rambutan. Sempet kesel disini, karena gue dibuat jadi anak ilang. Entahlah disengaja atau engga, tapi cukup tau ajah mereka ngasih jam karet ke gue. Mondar-mandir nyari mereka ber-4. Dan gue bertemu dengan bang Ndaru, gue manggil dia om Cemut. Kami ber-2 punya tujuan yang sama yaitu “mendaki Gunung Gede” tapi beda jalur pendakian, gue jalur putri dan dia jalur Salabintana. Secara Bawa Carriel kosong 80L, berat juga pundak gue. Kebetulan om cemut lagi nunggu orang yang kemungkinan lama, Gue putuskan untuk titipin tuh carrier ke om cemut lalu gue meneruskan mencari mereka ber-4.

Sampai pada pukul 22.30 Wib, mereka belum juga ada di rambutan. Badan gue udah capek, keringat gue udah bercucuran, terus kaki gue udah pegel duluan sebelum nanjak. Gimana gue ga kecewa?? Gue ambil carrier ke om cemut dan pamit…Alhamdulillah, gue ketemu sama kang Denz (TS gue ke Papandayan Maret lalu). Dari pada gue berasa kaya anak ilang, yasud gue ikut dia naik motor ke tempat ngumpul rombongannya yaitu Di Musolah Kampung Rambutan.

Waktu terus berjalan jam menunjukan pukul 23.30 Wib. Aseem.. mereka belum juga dateng. Mana nih rombongan ga ada yang gue kenal satu pun kecuali kang Denz. Ikut ajahlah yah nyari aman.

Hampir pukul 00.00 Wib gue beserta rombongan Kang Denz naik bis jurusan Jakarta – Sukabumi (kalo ga salah, Coz gue udah gondok abis. Ga niat baca tuh tulisan kemana tujuan bus). Tapi, akhirnya mereka datang juga 🙂 .

Tadinya gue duduk sendiri, tapi ada pendaki rombongan Kang Denz numpang duduk disebelah gue. Namanya gue Lupa, padahal sempet kenalan sama rombongannya. Lumayan Seruuu dan bisa ngilangin kekeselelean gue sama mereka. Mereka duduk di bangku belakang (entahlah mereka duduk atau berdiri. gue ga ada niat nengok ke belakang).

Melewati jalur puncak yang sistemnya buka tutup, sampailah kami pada tujuan akhir untuk naik angkot yang sudah di carter TS. Kami akan mendaki dari jalur Putri. Dan turun dari bis, gue langsung  gabung dengan mereka ber-4.

Kami mendaki ber-5 ‘sssempurna :p

Kami turun di pemberhentian akhir mobil carteran tepatnya sihh di jalanan sempit terjal pula di pemukiman warga kaki gunung. Sampai disini belum terlihat pos, tapi Dingin sudah terasa menusuk-nusuk tulang gue. Kami pun istirahat sejenak di sebuah warung sambil menunggu yang lainnya (Rombongan Kang Denz). Tapi udah lama ditunggu, mereka belum juga muncul 😦 (ternyata gue ga suka menunggu!!).

Tapi, gue seneng banget karena sambil menunggu gue bertemu dengan temen-temen gue sepenanjakan gn. Ceremai Awal bulan kemaren 🙂 (Bang Hendro, Bang Manay, Bang Akbar, Bang Zaenal, Bang Adi dkk). Ngobrol sebentar karena mereka juga menunggu rombongan mereka yang lain. Kami pun memutuskan untuk ke atas menghampiri mereka di warteg, eh bukan dehh, semacam rumah yang menyediakan makanan mateng sihh, atau sama ajah ya??? terserah ddehh mau nyebutnya apa, yang penting makan dan minumnya teh panass… mantapp 🙂

Setelah makan, kami ber-5 memutuskan beristirahat sambil menunggu datangnya waktu pagi di teras rumah warga. Tiduran bersejajar, tepat di pintu belakang rumah. Tapi datang Kang Denz meminta kami bergabung dengan rombongan untuk Istirahat di Musolah didekat situ juga. Kami pun bergegas mengikuti kang Denz untuk sampai ke Musolah. Secara diluar lumayan dingin, dan di Musolah kita juga bisa Sholat Subuh berjama’ah nanti. Kami menempatkan diri masing-masing. Gue bergabung dengan pendaki perempuan lainnya sedangkan mereka ber-4 tidur bergabung dengan pendaki laki-laki lainnya.

Belum juga mata sempat terpejam, Adzan Subuh sudah berkumandang. Karena tidak baik jika kita sudah dipanggil tapi tidak menghampiri. Gue langsung mengambil perlengkapan mandi cuma untuk gosok gigi lalu dilanjutkan berwudhu. Subhanallah, Airnya…Maknyosss…dingine pooolll..!! 😀 Segerr…dijamin bikin mata ga jadi ngantuk.

Setelah shalat subuh berjama’ah kami semua menyibukan diri masing-masing untuk bergegas melanjutkan perjalanan. Ada yang Packing barang-barang, ada yang belama-lama di toilet, ada yang ngobrol, ada yang tidur-tiduran sebentar, ada yang cari sarapan.

Kalo kami ber-5 ke toilet bergantian, packing sebentar lalu sarapan. Sedangkan Bang Hendro dkk sudah menghilang dari peredaran alias hilang dari warteg. sepertinya mereka sudah melanjutkan perjalanan 😦 .

Setelah Kami dan Rombongan selesai sarapan, di Absen TS dululah supaya tidak ada yang ketinggalan, berdoa bersama dan mulai Tracking pukul 07.00 Wib.

Menyusuri Perkebunan Warga di kaki Gunung Gede 

Menyusuri Perkebunan Warga

Menyusuri Perkebunan Warga

Pendakian kali ini sangat ramai dengan pendaki lain, ada acara Anniversary Komunitas Gunung dengan berpakaian kompak berwana Hitam bergambar yang menjelaskan kepada kami sebelum bertanya kalau mereka sedang melaksanakan Anniversary. 🙂

Tegur sapa kami lakukan, bukan karena basa-basi tapi karena menjadi kebiasaan. Sesama Pendaki bersaudara (itu yang sering gue denger dan gue terapkan). Kami ber-5 terus melangkah menyusuri jalan yang cukup jelas sekali. Disini jangan takut kesasar tapi perlu juga bantuan teman yang sudah pernah kesini untuk wasapada. hehehe… (tetep takut kalo mendaki sendiri walau nantinya sudah pernah 🙂 )

Secara Gunung Gede Pangrango sudah Fenomenal dikalangan Pendaki Senior maupun amatiran. Jadi untuk kesini ga perlu takut kesepian, karena setiap harinya banyak orang yang melakukan pendakian dari penjuru manapun kecuali ketika Gunung ini di tutup.

Kami berjalan perlahan sambil menikmati pemandangan yang disuguhkan Gunung Gede dengan hamparan pepohonan tinggi yang meneduhkan kami dari teriknya Sinar Matahari. Alhamdulillah, Hari ini Cuaca sangat cerah, seolah Gunung Gede sangat mengizinkan kami untuk mendaki kali ini. Sesekali kami terdiam untuk beristirahat mengatur nafas, sesekali kami juga berhenti untuk mengabadikan view saat ini.

Bang Budi, gue manggil dia om Budi. hehehe 🙂 Om Budi melangkah yang paling terdepan dan gue mengikuti langkahnya dari belakang. Dia penunjuk jalan gue, yang ngebantu gue disaat kesulitan disana. Om Budi is Everything buat gue ketika disini.

Setelah kami berjalan kurang lebih 1 (satu) jam dari tempat kami memulai track sampailah kami di Pos Legok Leunca pada ketinggian 1.900 mdpl pada Jam 08.18 Wib. Karena di Pos ini sangat ramai dengan pendaki lain yang sedang beristirahat, kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan sambil mencari tempat untuk istirahat.

Melewati Pos Legok Leunca

Sambil berbincang-bincang kami menyusuri jalan, kadang mulut terdiam berjalan sambil mengatur nafas dan mengemut sedikit demi sedikit Sesachet Madu**** 🙂 .

Kadang gue suka ketawa sendiri melihat Om Momo dan Om Hendar yang akrab banget kaya permen karet sama anak kecil. Kami juga sering tertawa-tawa selagi gaya di Kamera udah terlihat ga banget. Ahhh… perjalanan ini tidak akan bisa terlupakan meskipun orang lain bilang ga Seruu… (Ga Perduli :p )

Huu Haa Huu Haa… Jam 08.24 Wib kami sudah cukup lelah dan kami memutuskan untuk beristirahat kurang lebih 5 menit di pinggir track dimana pendaki lain berlalu lalang.

Istirahat After Pos Legok Leunca

Istirahat 5 menit  After Pos Legok Leunca

Setelah beristirahat kami melanjutkan perjalanan, belum lama kami melangkah atau kurang lebih 8 menit kami berjalan kami sudah sampai di Pos Buntut Lutung di ketinggian 2.250 mdpl.

Pos Buntut Lutung 08.37

Kami terus melakukan pendakian, dan sepanjang perjalanan yang kami lewati disekitarnya masih berupa pepohonan tinggi dan tidak begitu lebat karena masih memaparkan cahaya matahari kedalamnya. Bernarsiz-narsiz ria pun kami lakukan. Alhamdulillah, sampai pada saat ini kami tidak mendapatkan kendala apapun.

Jam menunjukan pukul 10.07 Wib, kami bertemu dengan Om Akbar, Om Zaenal dan temannya yang sedang beristirahat sambil menyalakan api. Entahlah, maksudnya api itu untuk apa?? (Aneh) tapi yang jelas suhu cukup panas, jadi ga mungkin banget mereka sedang membuat api unggun :p . Tapi disana banyak terdapat sampah pelastik. Mungkin maksudnya sambil beristirahat sambil membakar sampah-sampah itu… (dengan api kecil dan terkontrol, dan sampah yang dibakar cuma sedikit..hehehe) jadi jangan khawatir ya… 🙂

Gue sedikit aneh disini, maklum ini pendakian Gunung Gede yang pertama kali. Gue ngeliat pedagang disini yang menjual bermacam minuman dan PoP Mie… Owh My God, jadi logistik yang dibawa dari bawah yang ngeberatin carrier temen gue gimana??? hahaha 😀 tenang ajah Logistik yang dibawa sangattt-sangat bermanfaat kok buat perut dan kantong. Secara butuh perjuangan para pedagang menjajakan dagangannya kesini, alhasil harganya melambung tinggi seperti harga bbm yang baru-baru ini naik. Tapi harga bbm dan makanan yang dijual disini mahalan makanan disini sihh hehehe… (Tapi ga ada salahnya, namanya juga mereka lagih nyari rejeki Yukz beliii…hihi :p ).

DSC07456

Om Denny..Om Zaenal..Temenya om Zaenal & Om Akbar

Disini kami beristirahat, Om Budi makan makanan yang dibawanya dari warteg tempat kami sarapan pagi sedangkan gue minum seteguk dua teguk air dan mengakhirinya dengan bernarsiz-narsiz ria. Karena setiap moment disaat mendaki ituh menurut gue sangat berharga, sebisa mungkin gue harus mengabadikannya dengan terpangpang muka gue walaupun lagih kumel berat. Saling berbincang, sekalian perkenalan. Kerana diantara mereka ada lohh yang belum saling mengenal..! emang iyahh?? perasaan udah kenalan deh pas Malem (Lupa 😀 ).

Setelah tenaga kita mulai pulih, lelahpun sudah hilang kami ber-5 memutuskan untuk kembali melakukan perjalanan. Sedangkan Om zaenal dkk masih tetap pada posisi yaitu bersantai-santai ria. Kami pun berpamitan untuk mendahuluinya..hehehe

Menuju puncak koma, kami mulai melewati track yang terjal dengan kemiringan kurang lebih 80 derajat dengan tanah merahnya yang menggembur. Om Budi mengulurkan tangannya untuk membantu gue menaiki gundukan tanah tersebut. Masih banyak tanjakan yang kami harus lalui yang akan menghadang kami setelah ini. Dan kami sangat siap untuk melaluinya…(berasa superhero).

Kemudian kami bertemu dengan Om Hendro dengan Cerrier kulkas 3 Pintunya. Terlihat sangat lelah, melihat gue hanya tersenyum dan kembali berjalan. Keringat di dahinya tidak kunjung kering, meskipun sudah di sapunya berulang kali. Owhhh…. Kerreennya om akuh, dengat keringatnya…(Secara gue tau dia gimana?sdotoyayam) . Gue cuma bisa teriak buat dia… “Om Onta… Cemunguutt ea!!!” :p .

Kami terus berjalan dan ketika lelah, kami beristirahat sesuka hati untuk berapa lamanya. Yang jelas ketika kami sudah merasa sanggup untuk berjalan lagi, kami pasti memutuskan untuk jalan kembali.

Kami bertemu kembali dengan Om Manay dkk yang sedang beristirahat. Dan kami menghampirinya untuk ikut beristirahat didekat mereka. Menceritakan Om Hendro yang sedang bersusah payah melewati track dengan Carriernya dan menceritakan pertemuan kami di bawah dengan Om Zaeanal dibawah dst…(lupa).

Seperti biasa kami melanjutkan kembali mendaki, hati gue berharap-harap cemas ingin menjumpai surya kencana (Surken) yang terkenal dengan dataran yang luas dihiasi dengan Edelweis yang terus saja hidup meski Cuaca hujan dan terik. Edelweis akan terus hidup jika tidak ada tangan-tangan jahil yang mencoba menyentuhnya hingga memetiknya.

Dan kami beristirahat kembali di sebuah Pos yang gue lupa namanya. Disini ada batang pohon besar yang tumbang. Kami sempat photo-photo disini juga.

SURYA KENCANA

Ya, sekarang gue berada di Surya kencana rumahnya gunung Gede. Gue Melihat Dataran sebagai lantai untuk kami berpijak yang luasnya sejauh mata memandang yang dihiasi bunga abadi Edelweis,  bertembokan pepohonan yang menjulang tinggi menandakan masih ada gundukan tanah yang harus kami daki, beratapan langit biru yang dihiasi awan putih. Matahari pun memaparkan terik sinarnya. Sesekali mereka menghilang ditelan kabut putih.

Setelah berlama-lama beristirahat kami melanjutkan perjalanan kembali kurang lebih 30 menit sampai dengan tempat kami membangun tenda. Awan putih berganti menjadi hitam, langit biru memudar menjadi abu-abu, mendung pun datang. Sedangan hari semakin sore, bergegas kami membangun tenda bersama-sama, setelah rapih kami masuk dan mengeluarkan semua barang yang ada di dalam carriel kami.

Udara semakin dingin, diluar semakin gelap, rintikan hujan pun menjadi butiran air turun dari langit. Memaksa kami untuk tidur didalam tenda untuk beristirahat setelah seharian berjalan kaki mengarungi ¾ track Gunung Gede menuju puncak. Kapasitas tenda yang dibawa untuk 4 orang karena ada gue, jadi sempit secara buat 5 orang. Hahaha. Butiran es batu menghampiri menghantam tenda kami.

Gue tidur paling pojok dari daun pintu tenda. Emang tenda ada pintunya ya?? Ya pasti kalian ngertilah apa yang gue maksud. Air mengalir membasahi sleeping bag yang gue kenakan. Gue ga hiraukan itu. Gue keep calm lanjut tidur. Tiba-tiba tubuh gue mulai terasa dingin, kulit ujung kaki dan tangan gue mengkerut. Sumpah dingin banget, tapi gue masih tetap nahan rasa dingin itu. Semakin lama tubuh gue menggigil, semua menanyakan keadaan gue. Dan gue tetap kekeh mengatakan kalo gue masih baik-baik ajah. Om Budi mengechek sleeping bag gue yang bener” basah. Dan gue langsung nangiss karena apah?? Udah lama kalo gue mau bilang kalo gue kebocoran disini!! Hahaha. Ethh, tapi beneran seriusan gue kedinginan broh, jacket gue basah, baju gue basah, sampai hati gue pun ikut basah….(lebaay).

Berharap hujan berhenti, dan gue bisa nyari teman-teman cewe yang satu trip sama gue (walaupun gue ga kenal mereka, tapi ini demi kalian supaya ga sempit-sempitan lagih, dan demi aku supaya ga kebasahan lagih) hehe. Atau gue numpang tidur di tendanya om onta dkk yang gede banget.

Hujan pun berhenti, Om Budi mencari rombongan kang dens yang lain. Sementara gue nunggu di tenda bersama yang lain. Tapi Om Budi kembali pun tidak ada kabar baik, mereka tidak ditemukannya. Gue dan Om Budi pun keluar menghampiri tenda Om Onta.

Gue keluar bersama dingin yang begitu menyejukan gue, menyusuri jalan gelapnya malam dengan bekal headlamp di kepala Om Budi, Dia didepan gue menghantar gue ketempat tujuan. Jiahh… ternyata Om Onta dkk lagih mengalami bencana kebanjiran secara dia pasang tenda tepat di mana air mengalir. Aku melihat mereka mengangkut barang-barangnya ke tenda yang sudah berada di atas sedikit demi sedikit, sementara ada yang menggigil di dalam tenda dengan baju basah yang dikenakannya, alasnya pun berair.. aku pun ga bisa masuk karena mereka pasti sedang sibuk-sibuknya. Sementara disamping tenda Om Onta ada pendaki lain yang sedang sibuk mengobati temannya yang terkena Hippo.

Gue sadar rasa dingin yang gue alami tadi pas hujan tidak sedingin yang mereka rasakan sekarang. Gue ke atas sedikit mengahampiri tenda yang lain, pendaki yang pernah kita temui di cermai dan kita sempat photo bareng kok sama mereka dicermai waktu itu. Gue ga terlalu kenal nama, mungkin hanya kenal wajah. Gue dan Om Budi menghampiri mereka, dan menikmati secangkir Indocafe yang mereka buat didalam tenda. Mereka membuat lingkaran didalamnya sambil berbincang-bincang mungkin untuk membunuh udara dingin yang berada disekitar kami.

Om hendar datang juga ke tenda yang kami kunjungi, dan dia bilang akan masak makan malam. Asiiiikk… kita pun bergegas kembali ke tenda. Sebelum sampai ke tenda aku sempat menoleh :

 

Sungguh aku tidak pernah melihat malam seindah ini,

Aku menatap langit, bintang berhamburan menghiasinya

Seolah tadi tidak pernah terjadi hujan,

Aku melihat kedepan, Hamparan Lampu-lampu dari balik tenda warna-warni begitu terlihat indah,

Mereka begitu menyempurnakan malam ini..

Dingin yang aku alami sirna dalam lamunan malam ini…

Hujan membasahi semua yang ada disini…

Termasuk hati ku,

Hatiku begitu luluh memandangnya, merasakannya…

Begitu indah kuasa-Mu ya Allah

 

Aku melihat seorang yang selalu ada didekatku

Dia tetap berdiri, tidak goyah pada pendiriannya…

Aku tidak pernah membohongi perasaanku,

Apa yang kamu tahu itulah kebenarannya

 

Terima Kasih untuk malam yang indah ini, bersamamu menikmati ini semua adalah sebuah kesempurnaan. Teruslah seperti itu, jangan hiraukan apa yang aku katakan, biarkan aku saja yang menjadi gila.

 

Om Denni & Om Hendar sedang masak, Gue, Om Momo & Om Budi tidur (menunggu masakan dihidangkan). Kalian Koki terbaik malam ini. Setelah makan pun kami bergegas tidur.

Tengah malam gue merasakan hal tidak enak diperut gue, gue mau keluar sendiri takut. Tapi gue lihat mereka semua sedang tertidur pulas gue ga mungkin mengganggu mereka. Gue tahan, tapi tubuh gue ga bisa diem, rusuh sendiri karena ngerasa ga nyaman. Om Hendar juga terbangun, menanyakan ada apa? Ke gue. Ternyata kita merasakan hal yang sama, kita buru-buru keluar dengan senter. Kami bergantian, saling menjaga satu sama lain masuk kedalam hutan yang ga jauh dari tenda. Alhamdulillah, Legaaaaaa….

 

Pagi tiba, sepertinya tadi malam adalah mimpi indah. Tiba-tiba terdegar banyak tukang dagang nasi uduk berdatangan menjajakan dagangannya, gue ketawa ga berhenti mendengar itu. “Gue lagi digunungkan?” (aneh). Gue memesan gorengan sambil membayangkan panasnya bakwan yang akan gue makan. Pas gue makan, “Apaan?” ini bakwan jauh dari harapan, dingin total hampir beku. Om budi ketawain gue lalu tidur lagi. Ehmmm

Gue bangun rapih-rapih untuk ikut Om momo & Om Hendar hunting photo. Kabut terlihat mengelilingi tenda-tenda. Rumput-rumput meneteskan butiran-butiran embun pagi. Pohon Edelweis masih basah efek hujan semalam. Matahari perlahan-lahan muncul dari sebelah kiri kami. Hingga lama-lama kelamaan berada sejajar dengan kami. Cahaya menghangatkan tubuh kami yang sedang kediginan. Secangkir Susu panas yang Om Hendar pesan menghangatkan perut kami (satu cangkir bertiga). Nikmatnya merasakan kebersamaan bersama kalian.. J

Setelah matahari sudah semakin naik, kami kembali ke tenda dan mulai membagi tugas. Gue dan om Budi Cuci piring bekas makan malam & mengambil air untuk masak. Om Momo, om Hendar & Om Denni masak sarapan. Setelah itu gue dan om budi juga sibuk packing-packing seadanya, mengeluarkan semua barang2 dari dalam tenda dan menjemurnya dibawah sinar matahari yang semakin terik. Tenda yang kita bangun pun, Om Budi & Om Denni rapihkan kembali seperti semula. Packingan kelar sarapan pun sudah siap kami santap. Kerjasama yang baik. 😀

Tiba-tiba didepan kita terlihat dua orang cewe sedang berphoto-photo ria. Dengan fashion kekinian dan make up berlebihan tidak lupa dengan gaya kekorea-koreaan. Semua mata pendaki cowo melihatnya tidak berkedip bahkan minta photo bareng. Ga penting juga sih gue ceritain ini, tapi kesel ajah liat dia ngeliatin mereka. (ceritanya jeleous ga jelas..haha). ya sudah lupakan.

Kita merapikan sisa-sisa yang harus kita rapihkan lalu kita menuju puncak. Pendakian kali ini ga ada cerita mengejar sunrise, tapi menikmati kebersamaan ini.

Rame banget ya Puncak gunung Gede Pagi ini. Gue ga bisa ngeliat jelas kebawah kawah karena tertutup kabut. L setelah mengambil beberapa gambar kita berlima dipuncak. Kita bergegas turun lewat jalur cibodas.

Sepanjang jalan turun Om Budi cuekin gue, gue kejar dia makin keneceng jalannnya. Gue tawarin roti yang udah gue bubuhin susu. Dia ga mau malahan lanjut jalan. Tapi ditanya ga jawab, gue berusaha deket dia. Dia ga hiraukan ituh. Sampai di Pintu masuk Gede Pangrango Penjelasan dari dia “Kalau naik sama-sama, turun harus juga sama-sama”. Terima Kasih om Budi atas pelajarannya. Aku janji tidak akan se-egois ini lagi).

Kami istirahat sejenak merebahkan tubuh di basecamp mang idi. Memesan Nasi Goreng telor Dadar & Teh Panas. Thanks All

Setelah istirahat kami cukup, kami melanjutkan turun dengan angkot yang hantarkan kami kejalan utama untuk menaiki Bus jurusan Kp. Rambutan. Kami menungu lama dipinggiran jalan hingga mati gaya, semua bis penuh. Kami mau nebeng pun semua mobil bak ada muatan, sekalinya adapun mobilnya menuju pasar cibodas (kembali keatas). Cedih barbie kalo begini terus… Setelah sekian lama ditolak bus, akhirnya kami dapat juga walaupun harus lesehan dibawah, selama ada kalian dalam kondisi apapun aku tetap bahagia. “Sampai jumpa di Trip Berikutnya”

 

 

Ya Allah,

Aku semakin sadar aku sangat mencintainya,

Kebersamaan ini semakin membuat aku berharap akan dirinya,

Tapi, aku tahu dibalik ini semua ada wanita yang sedang diperjuangkannya
Aku tidak menyangka sesingkat ini aku jatuh cinta,

Aku tidak yakin akan dapat dengan mudah melupakannya
Aku mohon beri tahu aku, haruskah aku menyimpannya

Atau aku harus mengatakannya hingga jatuh harga diri…

Ya Allah,

Dia memberikan apa yang orang lain tidak pernah berikan padaku

Biarkan aku terdiam sejenak untuk berfikir tentang ini,

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s