Tertambat Kecantikan Ranu Kumbolo (2-Habis)

Tertambat Kecantikan Ranu Kumbolo (2-Habis)

(FOTO: Mehdia Naulifar) Lokasi favorit lain di dekat Ranu Kumbolo adalah Tanjakan Cinta. Tanjakan dengan kemiringan sekitar 45 derajat ini terletak di sebelah Barat Ranu Kumbolo. Tanjakan Cinta mempunyai nama dan cerita menarik. Nama Tanjakan Cinta diambil dari kisah cinta sepasang pendaki. Lelaki dan wanita tersebut awalnya mendaki ke atas bersama, kemudian sang lelaki melewati tanjakan tersebut lebih dulu. Sang wanita masih tertinggal di bawah dengan keadaan yang sudah kepayahan, tetapi sang lelaki hanya melihat dari atas dan sibuk mengambil beberapa foto. Pendaki wanita itu terus berusaha mendaki tetapi tidak sanggup. Sampai di satu titik, ia pingsan dan jatuh terguling ke bawah, kemudian tewas. Cerita semacam ini dikuatkan oleh pengendara Jeep yang biasa dijadikan tumpangan oleh para pendaki.

Di puncak Tanjakan Cinta, kita bisa berhenti sejenak untuk beristirahat sambil melihat indahnya Ranu Kumbolo dari atas. Sungguh pemandangan ini bisa membius kita: kilauan air Ranu Kumbolo yang dikelilingi pohon-pohon dengan cahaya matahari yang menembusnya. Jajaran tenda para pendaki yang berwarna-warni turut menghiasi pemandangan tersebut. Cobalah duduk sejenak dan diam menikmatinya. Sensasinya akan berbeda. Asal jangan diam dengan pikiran kosong. Hehe –ini ketawa bercanda yang serius.

Masih ada tanjakan lagi setelah Tanjakan Cinta. Tapi yang ini lebih pendek dan lebih landai. Tanjakan ini adalah jalan menuju Oro-oro Ombo, 2.460 mdpl. Oro-oro berarti tanah kosong, sedangkan ombo berarti luas. Sesuai dengan namanya, di sisi ini pemandangan yang kita dapatkan adalah tanah yang sangat luas dengan rumput-rumput yang menghiasinya. Puncak Gunung Semeru terlihat mengintip dari salah satu sudut. Semilir anginnya menyejukkan.

Untuk bisa menikmati Ranu Kumbolo, dari Ranu Pane rata-rata pendaki menghabiskan waktu empat jam dengan berjalan santai. Namun bagi yang sudah berpengalaman, cukup dua jam saja. Ranu Pane adalah nama sebuah desa kecil yang biasa dijadikan titik awal pendakian. Di dalam desa ini, terdapat beberapa fasilitas yang bisa dimanfaatkan pendaki: warung, toilet, dan mushola. Di Ranu Pane, para pendaki wajib mendaftarkan diri dan membayar Rp 7.000. Porter bisa dipesan untuk membawakan tas dan barang kita.

Jalan yang menghubungkan Ranu Pane dan Ranu Kumbolo adalah berupa jalan setapak yang muat maksimal dua orang. Sebagian jalan hanya dapat dilalui oleh satu orang. Kemiringan jalan setapak tersebut terbilang landai, yaitu 10 sampai 20 derajat, meskipun masih ada sebagian kecil yang cukup ekstrim. Para jagawana menyarankan berangkat ke Ranu Kumbolo pada pagi atau siang hari. Dalam waktu-waktu tersebut, pendakian akan lebih mudah. Begitu pula saat kembali ke Ranu Pane.

Terdapat empat pos yang akan kita lewati. Jarak Ranu Pane ke pos satu sekitar 3 km. Beberapa meter sebelum pos satu, terdapat penanda lokasi Landengan Dowo di ketinggian 2.300 mdpl. Dari pos satu ke pos dua berjarak 3 km lagi. Setelah melewati pos 2, terdapat penanda Watu Rejeng di ketinggian 2.350 mdpl. Pos dua ke pos tiga kira-kira berjarak 1,5 km. Pos tiga biasanya dijadikan tempat beristirahat sejenak sebelum melewati Tanjakan Setan. Disebut demikian karena tanjakan ini memiliki kemiringan kira-kira 60 sampai 75 derajat. Jika mendaki di saat musim kemarau, maka akan mendapati debu yang cukup mengganggu.

Setelah melewati Tanjakan Setan, kita harus berjalan lagi sejauh 3 km untuk ke Ranu Kumbolo. Setengah perjalanan menuju pos empat, para pendaki disuguhi pemandangan danau yang indah. Ya Ranu Kumbolo itu. Tetapi baru terlihat dari kejauhan. Meski demikian, melihat Ranu Kumbolo dari jauh saja sudah membuat rasa lelah hilang seketika. Semangat berjalan kembali bangkit untuk segera sampai ke sana. Tidak jarang kami bertemu dengan para pendaki lain. Ada yang berangkat sendiri, ada yang berangkat bersama rombongan. Semuanya saling sapa dan saling menyemangati. Bahkan tidak jarang para pendaki saling berbagi logistik meskipun tidak saling kenal.

Rasanya puas sekali bisa sampai di Ranu Kumbolo. Bermalam di Ranu Kumbolo, bercengkerama bersama teman-teman, melewati Tanjakan Cinta, dan menikmati Oro-oro ombo adalah cerita yang akan kami rindukan sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s