Menikmati Sisi Lain Parangtritis

Menikmati Sisi Lain Parangtritis

(Foto : Muhammad Iqbal) Senin pada awal 2011 sengaja dipilih supaya tidak menjumpai ramai-ramai. Saya dan rombongan motor berangkat dari Ring Road Utara Jogja sekitar pukul 9 pagi. Dengan jalan santai, sampai di Parangtritis sejam kemudian dengan melewati jalan lurus mulus. Katanya, biaya masuk Parangtritis Rp. 6.000 per orang, tapi si petugas minta Rp. 5.000 per orang, tanpa ada robekan karcis. Yah, begitulah. Tempat wisata kecil atau tenar sederajat Parangtritis pun, preman berseragam masih banyak. Jelas duitnya masuk kantong.

Dari pintu masuk itu, masih lumayan jauh masuk ke dalam. Di kanan kirinya banyak penginapan dan warung. Tapi kok sepi betul ya. Bisa jadi memang Senin itu sepi, orang pada kerja semua, kecuali beberapa pasang yang justru senang dengan yang sepi-sepi begitu.

Di belokan terakhir menuju pantai, beberapa orang sudah siaga di tengah jalan. Saya kira mau nawarin vila, tapi masing-masing mereka membentangkan tangannya, menghalang-halangi kami agar parkir di tempatnya. Kelakuan mereka sudah kelewatan, karena tangan mereka betul-betul sampai seperti merangkul agar kami berhenti. Lepas dari bentangan tangan yang satu, ada lagi yang lain di depan, begitu terus sampai sekitar 6 kali. Ini aneh dan sangat mengganggu.

Jelas kami pilih parkiran yang paling dekat ke pantai, ada di paling ujung. Terakhir saya baru tahu biaya parkir untuk motor Rp. 3.000, mobil Rp. 10.000 ribu, yang ini tidak diberitahukan sebelumnya, tapi ditembak waktu mau pulang. Mahal betul. Padahal di Jogja ini parkir motor ngasih Rp 500 pun masih lazim. Pantas tadi mereka rebutan sampai maksa begitu.

Sepinya menghapus nama besar Parangtritis. Kalau dikumpulkan semua pengunjungnya saat itu (termasuk yang lagi pacaran di balik-balik batu), mungkin cuma 20 orang. Itupun sudah dari ujung ke ujung.

Ada beberapa hal menarik di Parangtritis, yang biasanya tidak ada di wisata pantai. Pertama, banyak kuda yang disewakan, ada pula andong. Kalau kuda, satu putaran (sekitar 15 menit) tarifnya Rp. 20.000. Kalau andong Rp. 25.000.

Hal menarik kedua, kita bisa ikut Paralayang di sana. Untuk biaya tandem itu Rp. 300.000 sekali terjun, sudah termasuk kursus singkat. Tapi saya tanya petugas yang satu lagi bilangnya Rp. 250.000. Yah, sekitar-sekitar itulah.

Hal menarik ketika, kita bisa temui air terjun di pinggir pantai. Letaknya sekitar 500 meter ke Timur. Airnya segar, lumayan kalau mau mandi-mandi, karena di pantai katanya bahaya untuk mandi-mandi, dan memang nyatanya tidak ada yang berani, paling cuma di pinggir-pinggirnya sampai air selutut. Setelah air terjun itu, kalau lanjut ke Timur lagi, kita bisa ketemu batu-batu besar. Di balik batu-batu besar itulah gampang didapat orang yang pacaran. Setelah batu-batu besar itu, pasir putih jauh lebih bagus dari di tempat awal masuk tadi. Tapi, harus jalan dulu sekitar 500 meter lagi.

Saya di sana hanya sekitar 2 jam, tidak kuat sama panasnya, kembalilah ke kota Jogja. Setelah sebelumnya dipalak ibu-ibu karena sudah duduk di tempatnya. Padahal kami duduk di bangku bambu biasa yang ada di pinggir pantai pada umumnya yang itu memang fasilitas pantai, itupun paling cuma duduk 15 menit. Dia minta lima ribu. Daripada ribut, berikan sajalah.

(backpackinmagazine*c)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s