Karimunjawa, Lebih Indah dari yang Dibayangkan (1)

Karimunjawa, Lebih Indah dari yang Dibayangkan (1)

Karimun Jawa adalah sebuah perjalanan panjang penuh liku dan melelahkan, tapi sungguh terbayar oleh indahnya kepulauan ini. Perjalanan kali ini spesial, karena baru kali ini saya melihat indahnya kehidupan laut yang sesungguhnya.

Berawal dari 9 september 2011, kami janjian untuk berkumpul di terminal Jombor, salah satu terminal bis terbesar di Jogja. Ketika melangkahkan kaki keluar rumah, hati saya dag dig dug, entah kenapa. Rasanya ingin segera bertemu mereka sesama teman perjalanan. Pukul 11 siang saya sampai di Jombor. Satu persatu mereka berdatangan. Ada yang cukup dengan daypack, tapi ada juga yang membawa carrier, bahkan koper.

Sepertinya mereka sudah siap sekali. Saya pun begitu! Kami memulai perjalanan dengan berkumpul melingkar, dan saat itu doa saya begitu sederhana, “Tuhan, ini akan menjadi perjalanan yang cukup panjang, dan sudah lama saya menanti-nanti saat ini, hanya demi melihat indahnya ciptaanMu, bersama mereka, sahabat-sahabatku. Maka saya mohon mudahkanlah… amin.”

Kami berangkat dari Jogja pukul 1 siang dan sampai di terminal Terboyo Semarang hampir pukul 5 sore. Langsung kami lanjutkan dengan naik minibus jurusan Semarang-Jepara. Sepertinya ini adalah bus terakhir. Suasananya sangat sumpek, padat, dan dipenuhi bebauan yang beraneka ragam. Baru sekitar pukul 7 malam kami sampai di alun-alun Jepara, lalu kami turun dan mencari makan malam di sana.

Setelah perut terisi, kami menuju ke pelabuhan Kartini untuk bermalam di sana, sebagian naik becak dan sebagian naik angkutan mobil carry –orang-orang di sana menyebutnya mobil ‘ceri’- dengan tarif yang sama: lima ribu rupiah per orang. Sampai di pelabuhan, langsung kami cari tempat buat tidur. Tidurnya ya asal saja, asal ada tempat, yaitu di pelataran pelabuhan. Seperti tidak peduli dengan orang lewat yang terganggu dengan kami, yang penting kami mau istirahat. Capek!

Sebetulnya tidak plek langsung tidur begitu. Karena ada saja yang punya cerita, ada saja yang mencipta tawa. Macam-macam cerita bergulir, memunculkan kehangatan di antara kami. Seakan-akan dengan ngobrol begitu, pagi akan segera datang dan Karimun Jawa akan segera disambangi. Baru lewat tengah malam saya bisa memejamkan mata, yang beberapa jam kemudian dibangunkan oleh suara adzan subuh yang begitu bergema dari masjid pelabuhan.

Sudah pukul 6 lebih tapi Pak Bambang -pemilik warung di pelabuhan yang dipasrahkan oleh biro untuk beli tiket kami- belum juga muncul dari antrian panjang loket tiket ferry. Saya betul-betul takut, bagaimana kalau tidak dapet tiket?  Karena itu biasa terjadi di pelabuhan Kartini, dan kalau sudah begitu, biasanya mereka harus menunggu kapal berikutnya, yaitu dua hari lagi!

Tapi Alhamdulillah tidak perlu begitu, karena sejam kemudian Pak Bambang datang membawa setumpuk tiket! Dengan rupa-rupa cara, semua bisa masuk ke kapal, yang beberapa menit kemudian langsung berangkat. Sungguh beruntung kami dapat tiket. Kasihan mereka yang sampai kami naikpun masih harus mengantri panjang di loket.

Tantangan berikutnya adalah kondisi kapal yang penuh sesak! Karena kami kesiangan masuk, tidak ada kursi kosong yang tersisa. Ya sudah, lesehan saja. Toh tidak lama kemudian banyak yang pindah dari kursi lalu ikut lesehan karena mabuk laut, jadi kami dapat kursi J

Suara-suara dan bebauan datang dari segala sisi, selama 6-7 jam! Saya berusaha tidur, tapi tidak berhasil. Terombang-ambing di tengah laut selama ini adalah pengalaman pertama saya. Tidak menyenangkan, tapi bukankah itu yang dicari dan akan diingat dari bepergian? Seperti yang dikatakan Penelope Riley: It is not the destination where you end up but the mishaps and memories you create along the way!

Setelah enam jam terombang-ambing di lautan, kami sampai di Karimun Jawa, yang sudah saya angan-angankan sejak berbulan-bulan yang lalu. Alhamdulillah, terima kasih Tuhan. Terima kasih atas kesempatannya menikmati ciptaanMu dan mengagumi keagunganMu.

Berjalan menuju homestay dari pelabuhan tidaklah begitu jauh. Kami langsung dijamu dengan es kelapa muda yang sangat mengobati haus dan rasa kepanasan. Sekali lagi, es kelapa muda! Rasa segarnya seperti membersihkan segala penat tubuh setelah seharian dalam perjalanan.

Hari itu sudah hampir habis, sehingga terasa tanggung untuk jalan-jalan ke pulau lain, tapi saya sempat jalan-jalan ke dermaga yang hanya berjarak lima menit dari homestay. Sore di dermaga begitu istimewa. Mungkin yang saya lihat adalah sunset terindah sepanjang hidup saya. Pertanyaan yang masih saya bingung sampai sekarang, kenapa mentari senja di tempat ini tampak lebih besar dari yang biasa saya lihat? Menjelang tenggelam, matahari menjadi lebih bulat dan lebih besar, dengan warna oranye menyala.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s