Tempat Wisata Jakarta

1. Toko Merah


  1. Mungkin sudah banyak yang tahu tentang keberadaan Toko Merah yang ada di kawasan Kota Tua, Jakarta. Dulunya, Toko Merah adalah rumah seorang petinggi VOC yang mencetuskan pembunuhan terhadap orang China di Batavia.

    Kemudian, bangunan ini beralih fungsi menjadi toko yang dihuni oleh warga Tionghoa pada tahun 1851. Bangunan berusia tiga abad ini

    Sesuai dengan namanya, bangunan ini memiliki dinding yang hampir seluruhnya berwarna merah. Arsitektur yang diambil disebut-sebut mengambil gaya Tionghoa.

    Toko Merah dibangun di depan sungai yang menjadi saksi bisu pembantaian berdarah yang mengorbankan puluhan ribu nyawa etnis pada zaman penjajahan. Toko merah juga pernah dijadikan sebagai tempat penyiksaan gadis.

    Karena sejarah itulah, Toko Merah sering disebut sebagai tempat angker di Jakarta. Konon di toko ini pernah terdengar suara tangis dan juga derap langkah prajurit tentara. Yang membuat toko ini semakin angker adalah konon penampakan seorang wanita sering terjadi di dalam bangunan. Berani menguji nyali di sini?

    Tak sedikit pula para adu nyali datang ke tempat ini untuk menguji nyali. Malah, keangkeran toko ini pernah masuk dalam acara Scary Job.

     

    2. Taman Kota Langsat Mayestik

      

    Setelah Toko Merah, tempat lain yang dianggap angker di Jakarta adalah Taman Kota Langsat di Mayestik. Pasar yang berada di belakang Pasar Burung Barito ini adalah sebuah taman kota yang nyaman.

    Taman Kota Langsat memiliki fasilitas olahraga yang bisa digunakan setiap pengunjungnya. Pepohonan rindang yang mengisi taman memberikan nuasa asri. Sayangnya, tidak banyak pengunjung yang datang dan memanfaatkan fasilitas yang ada di taman.

    Karena sepi itulah, Taman Kota Langsat dianggap horor alias angker, terutama malam hari. Konon, pada malam hari warga sering melihat kuntilanak di pepohonan Taman Langsat. Hii!

    Malahan, sebuah cerita horor mengenai taman kota ini juga mulai berkembang lebih luas. Konon, suatu malam ada orang yang sedang duduk di kios sekitar taman, namun tiba-tiba pamit pulang. Mau tahu apa alasannya? Katanya ia melihat penampakan genderuwo.

    Tidak sampai di situ, kehororan Taman Kota Langsat semakin bertambah karena cerita seram lain yang muncul. Konon, bau-bau aneh dan suara tawa sering dengan sumber yang tak jelas muncul di taman ini.

    3. Museum Taman Prasasti

    Satu lagi tempat angker di Jakarta, yaitu Makam Taman Prasasti. Hampir semua orang pasti mengamini kalau pemakanan adalah tempat yang horor, karena tempat peristirahatan terakhir manusia, tak terkecuali makam di Museum Prasasti.

    Museum Taman Prasasti adalah sebuah museum yang menyimpan banyak nisan kuno. Dulu sebelum menjadi museum, Taman Prasasti adalah pemakaman umum yang bernama Kebon Jahe Kober. Kemudian pada tahun 1977 pemakaman ini dialih fungsi menjadi museum.

    Masuk ke dalam Museum Taman Prasasti, nuansa horor langsung terasa. Suansa yang sepi menjadi faktor pendukung yang membuat bulu kuduk berdiri. detikTravel berkunjung beberapa waktu lalu.

    Hal lain yang membuat museum ini sedikit angker adalah karena keberadaan banyak makam di dalamnya. Tidak hanya itu, Museum Taman Prasasti juga dihuni banyak patung. Kebanyakan patung berbentuk seperti malaikat.

4. Pelabuhan Sunda Kelapa

Jakarta – Ingin menikmati Jakarta dengan cara yang beda? Datang saja ke Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta Utara. Di sini, Anda dapat menyusuri perumahan penduduk yang terapung hingga tepi lautan di sekitar pelabuhannya. Seru!

Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi salah satu dari beberapa destinasi di wilayah Jakarta Utara. Tempat ini memang dikenal dengan kapal-kapal besar yang berlabuh di tepian dermaganya. Tak heran, banyak traveler sekaligus menghabiskan waktunya untuk berfoto dan bergaya di sana.

Selain itu, Anda juga bisa berperahu mengitari tepian laut dan juga Pasar Ikan yang dipadati oleh rumah-rumah penduduk di atas air. Inilah cara asyik untuk menikmati Jakarta dari atas air. detikTravel pun mencoba menikmati atraksi wisata ini pada hari Senin, (27/8/2012).

“Kalau ini namanya sampan ojek, soalnya pakai mesin. Kalau yang tidak pakai mesin ya namanya sampan saja. Biayanya pun beda,” kata Agus, pemilik sampan ojek kepada detikTravel.

Anda bisa menemukan perahu-perahu kecil ini di pinggir-pinggir pelabuhan. Tidak ada papan penunjuk atau plang yang akan menjelaskan dan menunjuk keberadaan perahu-perahu kecil ini. Ya, perahu tersebut berada di antara kapal-kapal besar di tepian pelabuhan.

Untuk menaiki perahu kecil atau sampan ojek ini, Anda akan dikenakan biaya sewa Rp 100.000 per perahunya. Satu perahu bisa menampung 8-10 orang. Berpergian bersama teman-teman tentu akan lebih menghemat biaya. Untuk sampan atau perahu yang tidak menggunakan mesin, biayanya sekitar Rp 50.000 saja.

“Biasanya kami mengajak wisatawan mengitari Pasar Ikan hingga tepian Pelabuhan Sunda Kelapa. Kalau mau sampai Ancol bisa, tapi waktunya pagi hari dan tergantung wisatawannya,” lanjut Agus menjelaskan.

Biasanya, Anda akan diajak mengitari Pasar Ikan sebagai awal perjalanan. Anda akan melihat rumah-rumah penduduk yang terapung di atas air, perahu-perahu nelayan, hingga aktivitas masyarakat setempat. Ada juga musala terapung dan jembatan yang akan Anda lewati. Ups! hati-hati kepala Anda.

“Sayangnya masih banyak sampah di airnya mas. Coba kalau tidak ada sampah, pastinya tempat ini akan lebih bagus,” kata Agus sambil mendayung perahu.

Memang, pemandangan sampah plastik dan air yang cokelat akan terlihat sepanjang perjalanan. Di satu sisi, hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin melihat Jakarta dari sisi yang berbeda. Di lain sisi, pemerintah seharusnya lebih sadar dan menegaskan tentang peraturan membuang sampah sembarangan, untuk menjaga kebersihan pelabuhan.

Puas mengitari Pasar Ikan, wisatawan akan diajak berkeliling di sekitar Pelabuhan Sunda kelapa. Wow! Anda akan melihat kapal-kapal besar dari dekat. Beberapa bagian kapal seperti lunas kapal hingga jangkar akan terlihat dengan jelas. Tak hanya itu, wisatawan juga dapat menaiki salah satu kapal dan melihat bagian dalam kapal dari dekat. Seru!

“Turis asing juga banyak yang naik perahu seperti ini. Biasanya turis-turis Belanda,” ungkap Agus.

5. KOTA TUA

Jakarta – Kota Tua yang terletak di Jakarta Barat selalu ramai oleh wisatawan. Sejarah tentu jadi daya tarik utamanya. Tapi alih-alih membosankan, wisata sejarah di Kota Tua Jakarta bisa jadi sangat mengasyikkan!

“Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya.” Itulah salah satu kutipan terkenal dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya, Jejak Langkah. Tapi, banyak orang menganggap pelajaran sejarah sangat membosankan atau bikin ngantuk!

Padahal ada ajang belajar sejarah dengan cara yang lebih asyik: berwisata! Akan sangat menyenangkan kalau Anda wisata sejarah dengan berkunjung langsung ke tempat-tempat bernilai historis. Asep Kambali, Founder Komunitas Historia Indonesia (KHI) juga menekankan hal itu.

“Dengan berkunjung langsung, ilmunya lebih meresap karena proses empiris. Mereka (masyarakat-red) akan lebih mengingat sejarah,” kata Asep saat dihubungi detikTravel, Kamis (30/8/2012).

Wisata sejarah di Jakarta tergabung dalam Jakarta Heritage Trails. Kawasan Kota Tua adalah lokasi favorit untuk wisata ini. Museumnya banyak, bangunan khas Belanda tersebar di banyak tempat, juga atmosfer zaman kolonial yang masih kental.

Sepeda onthel adalah salah satu opsi untuk berkeliling. Dengan Rp 25.000 per jam, Anda bisa menyewa sepeda warna-warni dengan topi lebar khas noni Belanda. Opsi menarik lainnya adalah ikut tur jelajah Kota Tua. KHI adalah salah satu komunitas yang menggelar wisata tersebut.

“Wisata Kota Tua sudah ada sejak 2005. Peminatnya tak pernah surut. Sebelumnya ada Wisata Kampung Tua, kerjasama dengan Museum Sejarah Jakarta. Ada banyak tur termasuk Jakarta Night Trail,” tutur lulusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Jakarta Night Trail adalah salah satu cara asyik menyusuri Kota Tua. Bayangkan saja, Anda akan dibawa menyusuri museum-museum dan beberapa ikon Kota Tua. Jangan kira museum ini tutup kalau malam ya. KHI bisa membuat beberapa museum buka di malam hari!

“KHI bisa minta beberapa museum untuk buka malam hari. Misalnya, Museum Mandiri,” jelas Asep.

Baik berjalan kaki ataupun mengayuh sepeda, Anda akan dibawa menyusuri lapangan di depan Museum Fatahillah, Groote Kanaal, Jembatan Kota Intan, Terminal Kota Tua, Gedung Cipta Niaga, Pelabuhan Sunda Kelapa, Menara Syahbandar, Museum Maritim, hingga Pasar Ikan Muara Angke.

Asyiknya lagi, Anda akan bertemu dengan banyak teman baru dengan ketertarikan yang sama. Tur ini bisa diikuti oleh semua umur, baik anak-anak sampai orang tua. Ikuti saja Public Event yang hampir tiap minggu digelar oleh KHI. Anda tak perlu bayar sepeser pun untuk tur ini!

Kalau Anda ingin tur privat bersama keluarga atau kerabat, bisa juga memesan tur lengkap dengan pemandunya. KHI punya sekitar 300 volunteer yang siaga mendampingi wisata sejarah.

Sepanjang Jakarta Night Trail, Anda juga bisa wisata kuliner khas Jakarta. Makan ketoprak atau gado-gado di malam hari, juga kerak telor sebagai menu sarapan. Wisata sejarah Kota Tua akan makin asyik!

 

6. Bianglala di Dunia Fantasi, Ancol

Tak ada yang lebih romantis dari menunggu senja di atas kincir raksasa, berputar pelan, dengan Laut Jawa yang terbentang di depan mata. Untuk senja yang sempurna, naiklah wahana Bianglala yang tersedia di Dunia Fantasi (Dufan), Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara.

Seluruh bangunan dan wahana yang ada di Dufan juga terlihat dari atas sini. Anda akan dibawa ke ketinggian 33 meter, menjadikan Bianglala salah satu bangunan tertinggi di tempat ini. Bianglala bisa menjadi “pemanasan” sebelum Anda naik Singapore Flyer atau London Eye.

7. Balon Raksasa TMII

HiFlyer Balloon akan mengantar Anda ke langit Jakarta, melihat seisi kota Jakarta yang perlahan mengerdil. Balon udara raksasa yang berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, ini akan membawa Anda terbang di ketinggian 110-150 meter, tergantung cuaca saat itu.

Dari situs resmi Balon Raksasa yang dikunjungi detikTravel, balon yang diklaim sebagai terbesar di Asia Tenggara ini hadir pertama kali di Indonesia pada Desember 2011 lalu. Dengan tinggi 32 meter dan lebar 22 meter, wahana balon udara raksasa ini bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga bahkan pengguna kursi roda.

Jangan kuatir dengan segi keamanan. Balon udara raksasa ini aman karena menggunakan helium non eksplosif sehingga tidak meledak. Kulit balon terbuat dari bahan Kevlar, yang sangat kuat dan anti peluru. Tiket pada hari biasa yaitu Rp 100.000 untuk dewasa dan Rp 60.000 untuk anak-anak. Sedangkan pada hari libur, tiketnya Rp 120.000 untuk dewasa dan Rp 80.000 untuk anak-anak.

8. Skye Resto di Menara BCA

Bagaimana rasanya makan malam beratapkan bintang di lantai 56 sebuah gedung tinggi? Skye Resto di Menara BCA, Jl MH Thamrin, adalah tempat yang cocok untuk makan malam romantis. Anda dan pasangan bisa menikmati beragam suguhan makanan dan minuman sambil menikmati kerlap-kerlip Jakarta di malam hari.

Panorama Bundaran HI dan gedung-gedung di sekitarnya terlihat jelas dari sini. Sambil makan malam, Anda dan pasangan bisa menikmati panorama Kota Jakarta yang seakan tak pernah mati. Anda juga bisa membawa keluarga dan kerabat untuk sama-sama menikmati atmosfer ibukota saat malam.

Walaupun cocok didatangi malam hari, Skye Resto buka pukul 10.00 WIB setiap hari. Anda juga bisa makan siang atau sekadar ngopi sore sambil menikmati semilir angin. Selain restoran, tersedia juga bistro/ lounge yang buka hingga pukul 01.00 WIB dini hari.

9. Monumen Nasional

Monumen Nasional (Monas) yang berlokasi di Jakarta Pusat cocok juga untuk melihat Jakarta dari ketinggian. Dengan tinggi 132 meter, Anda bisa naik ke pelataran di puncak monumennya menggunakan elevator. Karena ini pula, Monas tak pernah sepi pengunjung. Baik keluarga, pasangan, juga orang kantoran yang sedang melepas penat.

Untuk masuk ke dalam “cawan”, orang dewasa dikenakan biaya Rp 2.500. Anak-anak, pelajar, dan mahasiswa hanya dikenakan biaya Rp 1.000. Sebelum naik ke puncak Monas, Anda bisa melihat-lihat Museum Sejarah Nasional yang memiliki banyak diorama seputar sejarah Indonesia.

Untuk naik ke puncak Monas, tiap orang harus membeli tiket lagi seharga Rp 7.500 untuk dewasa dan Rp 3.500 untuk pelajar. Sesampainya di pelataran puncak, Anda akan disuguhi panorama Kota Jakarta dari empat arah yaitu utara, selatan, timur, dan barat. Pelataran ini terletak di ketinggian 115 meter, lebih tinggi dari gedung-gedung pencakar langit ibukota.

10. Taman Ayodya, sebuah reinkarnasi pasar ikan hias

Sebelum 2009, lahan yang berlokasi di Barito, Jakarta Selatan, ini merupakan pasar ikan hias. Namun, tempat ini disulap menjadi sebuah taman kota cantik yang dihiasi kolam dan air mancur. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo meresmikan taman ini pada 15 Maret 2009, sebagai tempat rekreasi hijau untuk warga ibukota.

Di taman seluas 7.500 meter ini, pengunjung bisa duduk santai sambil menikmati hijaunya rerumputan. Sore hari, taman ini diramaikan oleh keluarga dengan anak kecil yang lari-lari di rumput hijau. Sesekali terlihat juga, pasangan kekasih yang sedang romantis menunggu senja.

Danau buatan seluas 1.500 m2 menjadi penyejuk hawa Jakarta yang cenderung panas. Di antara 200 pohon rindang yang menaungi Taman Ayodya, tersedia 2 gazebo untuk beristirahat dan berteduh dari terik matahari. Bagi yang suka olahraga, tersedia juga jogging track yang mengelilingi taman ini.

11. Taman Amir Hamzah, tempat bermain Obama dan Gus Dur semasa kecil

Rumah tua tepat di depan Taman Amir Hamzah pernah menjadi tempat tinggal KH Abdurrahman Wahid, atau biasa dipanggil Gus Dur. Kalau mendatangi daerah Menteng di Jakpus, Anda akan mendapati bangunan ini sebagai kantor The Wahid Institute. Kantor ini terletak persis di depan Taman Amir Hamzah, diambil dari nama seorang sastrawan besar angkatan Pujangga Baru.

Taman ini juga menjadi tempat bermain Barrack Obama semasa kecil. Waktu itu Presiden AS ini tinggal di Jl Taman Amir Hamzah No 22, yang letaknya sangat dekat dengan taman tersebut.

Dibanding taman kota lain, Taman Amir Hamzah terlihat sangat sederhana. Tak terlalu luas, tak pula tersedia kolam berair mancur di dalamnya. Namun, suasana di sini terasa sangat asri dan rindang. Taman Amir Hamzah adalah tempat favorit untuk melepas penat, olahraga pagi dan sore, juga menikmati kuliner pinggir jalan.

Di bagian tengah, terdapat sebuah taman kecil yang dipenuhi tanaman hias berwarna cerah. Pada hari libur dan akhir pekan, taman ini selalu ramai dikunjungi oleh keluarga. Mobil, motor, dan sepeda senantiasa parkir di sekelilingnya. Setelah puas bermain, beranjaklah ke bagian luar taman untuk berwisata kuliner. Ada bakso, ketoprak, mie ayam, juga minuman segar seperti es kelapa muda dan es cendol.

12. Taman Tanjung, sentra bermain dan olahraga

Nama “Taman Tanjung” mungkin terdengar asing di telinga Anda. Padahal, ini adalah taman yang indah dan punya fasilitas cukup lengkap. Taman ini terletak di Jl TB Simatupang, Jakarta Barat. Tepatnya, dekat kantor DPP PKS, sebelah kiri jalan sebelum flyover kalau Anda melaju dari arah Ragunan.

Tulisan “Taman Tanjung” terukir di papan berbentuk daun. Parkir mobil ataupun motor tak dikenakan biaya apa pun. Masuk ke taman ini, terdapat bangku taman berbentuk lingkaran untuk tempat bersantai. Lahan hijau memenuhi pandangan, ditambah beragam permainan anak seperti ayunan dan perosotan.

Walaupun tak ada air mancur maupun kolam, taman ini adalah tempat warga berolahraga. Ada lapangan futsal yang selalu ramai saat sore tiba. Anak-anak biasa berlarian di taman sambil memegang layangan.

13. Taman Kota Tomang, taman yang tersembunyi

Siapa sangka, sebuah lahan kosong penuh pemukiman liar disulap menjadi taman kota yang hijau dan memanjakan mata. Taman Kota Tomang berada di simpang Jalan Tomang, Jalan S Parman, Jakarta Barat. Kalau Anda melaju dari arah Slipi, taman ini terletak sebelum Mal Taman Anggrek.

Lanskap di taman ini tertata rapi. Rumput hijau menghampar, dengan bangku-bangku yang tersedia untuk bersantai. Ratusan pohon rindang membawa kesejukan dan memenuhi paru-paru dengan udara bersih. Danau di tengah taman sangat cocok menjadi objek foto, apalagi saat matahari terbit atau terbenam.

Bermain di taman ini, tak dipungut biaya apa pun alias gratis. Ini adalah taman yang cocok untuk piknik bersama keluarga. Membawa sendiri makanan dan minuman, lalu menggelar tikar di bawah pohon rindang, asal jangan membuang sampah sembarangan. Taman segar seperti ini, sama sekali tak terasa seperti Jakarta!

Di tempat ini, Anda seakan dikelilingi gedung-gedung tinggi seperti Wisma BNI 46, kantor Pertamina Pusat, dan mal Grand Indonesia. Beberapa bangunan lain seperti Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral juga terlihat jelas. Kalau melihat ke arah utara, Anda akan disuguhi panorama Laut Jawa dan gugusan pulau kecil milik Kepulauan Seribu. Indah!

14. Patung Hermes di Harmoni

Patung Hermes adalah peninggalan bangsa Belanda saat menjajah Indonesia. Jakarta yang dahulu disebut Batavia, menjadi salah satu titik penting Belanda untuk mempertahankan kekuasannya. Oleh sebab itu, Anda akan menemukan banyak peninggalan bangsa Belanda di ibukota, seperti Patung Hermes di Harmoni.

Memang, patung ini tidak terlihat mencolok. Patung ini persis berada di Jembatan Harmoni dan terbuat dari perunggu seberat 70 kg dibuat sejak abad ke-18. Dalam mitologi Yunani, Hermes dianggap sebagai Dewa Keberuntungan. Tak heran, kolonial Belanda begitu mengagungkan patung ini dan meletakannya di wilayah sentral Batavia pada saat itu. Anda mungkin sering melintasi perempatan Harmoni, tapi lupa memperhatikan patung ini.

15. Patung Peringatan Raden Ajeng Kartini di Monas

Saat berkunjung ke Monas, jangan lupa berfoto bersama Patung Peringatan Raden Ajeng Kartini atau yang dikenal Patung Kartini. Patung ini berada di dalam wilayah Monas yang berseberangan dengan Stasiun Gambir. Patung Kartini tersebut menggambarkan tiga pose Kartini yang berbeda, yaitu Kartini yang sedang berjalan, menyusui, dan sedang menari.

Patung ini merupakan sumbangan oleh Bangsa Jepang sebagai lambang persahabatan dengan Indonesia. Patung Kartini diresmikan pada tanggal 20 Desember 2005, oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Yutaka Himura dan Gubernur Jakarta, Sutiyoso. Ya, ada Kartini di Monas!

16. Patung Pangeran Diponegoro di Monas

Selain Patung Kartini, ada lagi patung pahlawan nasional yang berdiri megah di Monas. Patung tersebut adalah Patung Pangeran Diponegoro yang menjulang tinggi dan terletak di dekat pintu masuk menuju ke dalam bangunan Monas.

Saat detikTravel berkunjung, di dekat patungnya terdapat informasi mengenai Pangeran Diponegoro. Di situ tertulis tentang riwayat singkat perjuangan Pangeran Diponegoro dalam mengusir penjajah Belanda, hingga beliau wafat karena diasingkan. Patung ini sungguh terlihat gagah.

17. Patung Chairil Anwar di Monas

Siapa yang tidak kenal sang penyair Chairil Anwar? Kehebatannya dalam merangkai kata dan membuat puisi menjadikan dia sebagai salah satu pujangga terhebat di negeri ini. Di Monas, tepatnya di depan Mahkamah Agung, terdapat patung untuk memperingati Chairil Anwar.

Patung Charil Anwar menggambarkan wajah dia dengan rangkaian puisi Karawang-Bekasi yang tertulis dengan jelas. Di depan patungnya juga terdapat informasi mengenai kisah hidup sang penyair ini. Meski hanya seniman puisi, Chairil Anwar menularkan gairah semangat perjuangan kepada para pejuang melalui kata-katanya. Karyanya pun masih dikagumi oleh penikmat seni hingga sekarang.

18. Tugu Peringatan Satu tahun Proklamasi di Taman Proklamator

Taman Proklamator terkenal dengan dua patung raksasa Sang Proklamator Bangsa, yaitu Soekarno dan Hatta. Di taman ini juga terdapat tugu yang bersejarah lainnya, yaitu Tugu peringatan Satu tahun Proklamasi. Ya benar, 1 tahun umur Indonesia.

Siapa, saat republik ini baru berusia satu tahun, ada monumen yang dibuat untuknya. Tugu ini memiliki bentuk obelisk seperti Monas tapi berukuran mini. Dari pintu masuk, tugu ini berada di sebelah kiri Anda. Bentuknya memang biasa saja, tapi tugu inilah yang memperingati satu tahun kemerdekaan Indonesia pada 1946.

19. Patung MH Thamrin di Jl Medan Merdeka Selatan

Saat melintasi Jl Medan Merdeka Selatan, terdapat satu patung megah berdiri di dekat trotoar tengah jalan. Patung tersebut adalah Patung MH Thamrin. Patung ini diresmikan pada 22 Juni lalu.

MH Thamrin merupakan salah satu pahlawan dalam kemerdekaan bangsa ini. Beliau terlahir di Jakarta pada 16 Februari 1894, dan wafat pada 11 Januari 1941. MH Thamrin adalah pentolan organisasi Kaoem Betawi dan pemimpin Parindra. Banyak masyarakat Betawi yang menyebutnya sebagai ‘Pahlawan Betawi’.

20. Tugu 66 di Kuningan

Ada sebuah tugu di Jl HR Rasuna Said, Kuningan. Tugu ini berbentuk angka 66 yang dapat Anda lihat jika diperhatikan dengan jelas. Tapi mungkin Anda belum tahu sejarahnya.

Tugu ini didirikan untuk mengenang mahasiswa, pelajar, dan pemuda Angkatan 1966. Sejarahnya, pada tanggal 10 Januari 1966, terdapat peristiwa Tritura yaitu Tiga Tuntutan Rakyat. Isi dari tuntutan tersebut adalah bubarkan PKI, turunkan harga, dan bubarkan kabinet 100 menteri. Peristiwa ini masuk dalam sejarah bangsa Indonesia dan dikenang melalui Tugu 66 tersebut.

Itulah tujuh patung di Ibukota yang bersejarah dan sangat menarik. Mungkin, Anda sering melintas di sekitar wilayah-wilayah patung atau monumen tersebut. Akan tetapi, Anda tidak tahu mengenai keberadaan dan sejarahnya. Selamat bertualang di Ibukota dan bertemu patung-patung tersebut!

21. Pasar Baru dan Petak 9

Untuk kawasan yang mirip dengan negara China, Jakarta punya Pasar Baru dan Petak 9. Pasar Baru terletak di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Begitu memasuki kawasan Pasar Baru, gapura yang kental dengan desain khas Tionghoa akan menyambut kedatangan Anda.

Walaupun dikenal dengan nama pasar, tapi Pasar Baru sama sekali tidak terkesan kumuh atau kotor. Kawasan ini cukup bersih dan nyaman. Anda bisa berjalan-jalan di selasar yang ditutupi atap yang teduh. Di sebelah kanan dan kiri pasar terdapat banyak sekali toko-toko yang menjual beraneka macam kebutuhan.

Pasar ini dikenal dengan kawasan yang menjual berbagai produk tekstil impor yang terjangkau. Pada bagian belakang pasar, ada juga toko-toko elektronik, seperti kamera, TV, dan masih banyak lagi.

Puas berbelanja kebutuhan sehari-hari di Pasar Baru, Anda bisa berpindah ke Petak 9. Di sini suasana khas Negeri Tirai Bambu lebih terasa lagi. Kawasan ini menjual berbagai macam kebutuhan yang berkaitan dengan etnis Tionghoa. Pada saat Imlek tiba, Petak 9 berubah menjadi kawasan yang sangat ramai.

Aneka barang khas Imlek bisa Anda temukan di sini, mulai dari lampion, gantungan pintu, amplop angpao, lampion, baju, buah-buahan, hingga kue. Harga yang ditawarkan pun bervariasi mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah bisa Anda temui di sini.

Anda bisa mengunjungi pasar ini sejak pukul 9.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Khusus Sabtu dan Minggu malam, pasar ini tutup lebih malam. Suasana seperti di perkampungan China akan jelas terasa ketika berbelanja di sini.

22. Gereja Katedral

Gereja yang terletak di tengah kota ini, merupakan salah satu peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Arsitekturnya penuh nuansa khas Eropa. Memasuki kawasan gereja, Anda pasti akan lupa kalau ini di Jakarta.

Gereja Katedral mempunyai nama resmi Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming. Gereja ini berada di Jalan Katedral No 2, Jakarta Pusat. Gereja Katedral diresmikan pada tahun 1901 dengan rancangan Pastor Antonius Dijkmans.

Ada 3 menara di Gereja Katedral, yaitu Menara Benteng Daud, Menara Gading dan Menara Angelus Dei. Menara ini dibuat dari besi. Bagian bawah menara didatangkan dari Belanda dan bagian atas dibuat di Batavia. Selama lebih dari seratus tahun gereja ini banyak mengalami kerusakan, namun upaya umat dan pastur untuk menjaga dan merawat gereja Katedral ini terbukti hingga sekarang.

Selain jemaat, untuk bisa masuk ke dalam gereja ini Anda harus terlebih dulu membuat perjanjian beberapa minggu sebelum kunjungan ke petugas. Tur ke dalam gereja bisa dilakukan setiap hari, kecuali saat gereja sedang menggelar ibadah.

23. Cafe Batavia

Cafe Batavia berdiri pada tahun 1993, terletak di dalam sebuah bangunan tua bernuansa kolonial Belanda. Bangunannya yang unik dan antik begitu menarik perhatian. Posisinya tepat berada di depan Museum Fatahillah.

Menikmati malam dalam suasana klasik di Cafe Batavia memberikan kesan yang romantis. Kalau soal harga, Cafe Batavia memang membanderol setiap menunya dengan cukup mahal. Namun suasananya yang susah dicari di Jakarta sepertinya sebanding dengan harga mahalnya.

Cafe Batavia biasanya buka pada hari Senin-Jumat pukul 08.00 hingga 01.00 WIB dini hari. Saat weekend, Cafe Batavia buka lebih lama, yaitu pukul 08.00 hingga 02.00 WIB dini hari.

 

24. Rumah Kentang Prapanca

Lokasi: Jln. Dharmawangsa 9, Jak-Sel, persis di sebelah salah satu club terkemuka di daerah ini.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s